Karena itu, Reforma Agraria perlu dipahami sebagai agenda yang lebih luas daripada pembagian atau legalisasi tanah. Pelaksanaannya juga harus memperkuat akses masyarakat terhadap sumber penghidupan, meningkatkan produktivitas, memperluas kesempatan ekonomi, dan memastikan bahwa pengelolaan sumber daya memberikan manfaat yang adil.
Nilai kemandirian santri dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kehidupan yang bermartabat.
Hari Santri Nasional 2026 dan Tanggung Jawab Menyongsong Indonesia Emas 2045
Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa ulama dan santri telah berulang kali mengambil bagian dalam menghadapi tantangan bangsa. Pada masa perjuangan kemerdekaan, mereka berkontribusi melalui gerakan sosial dan perlawanan. Dalam masa pembangunan negara, mereka turut berperan melalui pendidikan, politik, dan pengabdian kepada masyarakat.
Namun, penghormatan terhadap sejarah tersebut tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Nilai perjuangan harus diteruskan dalam bentuk tindakan yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Itulah salah satu pesan penting Hari Santri Nasional 2026: menjaga tradisi sekaligus menjadikannya sumber daya moral untuk memperbaiki kehidupan bangsa.
Indonesia Emas 2045 tidak cukup diwujudkan melalui pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, dan pembangunan infrastruktur. Indonesia juga membutuhkan pemimpin yang berintegritas, berpengetahuan, berani mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap kepentingan rakyat.
Dalam kerangka tersebut, jiwa santri perlu menjadi nilai yang melampaui batas lingkungan pesantren. Nilai ini dapat diwujudkan oleh birokrat yang jujur, penegak hukum yang berintegritas, akademisi yang bertanggung jawab, pengusaha yang adil, petani yang mandiri, dan pemimpin yang bersedia mendengar suara masyarakat.
Tantangan kebangsaan masa kini memang berbeda dari masa kolonial. Ancaman terhadap kesejahteraan dan kepercayaan publik dapat muncul dalam bentuk korupsi, penyalahgunaan wewenang, pungutan liar, ketimpangan penguasaan tanah, dugaan praktik mafia tanah, serta lemahnya integritas kelembagaan. Persoalan-persoalan tersebut harus ditangani melalui penegakan hukum yang adil, pengawasan yang efektif, dan tata kelola pemerintahan yang transparan.
Dalam bidang agraria, komitmen tersebut harus diwujudkan melalui pelayanan pertanahan yang bersih, kepastian hukum atas hak masyarakat, dan kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik. Setiap dugaan penyalahgunaan kewenangan harus diperiksa berdasarkan bukti dan diproses sesuai hukum. Setiap kebijakan pertanahan juga harus dievaluasi berdasarkan dampaknya terhadap keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan hak warga.
Di sinilah perjuangan keadilan agraria bertemu dengan nilai-nilai santri. Keduanya menempatkan amanah, keberpihakan kepada masyarakat yang lemah, penghormatan terhadap hukum, dan tanggung jawab sosial sebagai landasan pengabdian.
Jika generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan, generasi santri masa kini memiliki tanggung jawab melanjutkan semangat tersebut melalui pendidikan, inovasi, penguatan ekonomi rakyat, dan perjuangan melawan berbagai bentuk ketidakadilan. Perjuangan itu harus dijalankan dengan pengetahuan, akhlak, dan penghormatan terhadap hukum.
Inilah jihad kebangsaan dalam konteks kontemporer: ikhtiar yang berlandaskan ilmu, menjunjung tinggi integritas, serta diarahkan untuk menghadirkan kesejahteraan bersama. Maknanya bukan sekadar semangat, melainkan komitmen untuk bekerja dan mengabdi secara nyata bagi masyarakat.
Peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026 pada akhirnya mengingatkan bahwa cinta tanah air tidak cukup diucapkan. Cinta tanah air harus dibuktikan melalui keberanian memperjuangkan keadilan, menjaga integritas, melindungi hak masyarakat, dan memastikan negara hadir bagi seluruh warga tanpa diskriminasi.
Santri bukan hanya penjaga tradisi. Santri merupakan bagian dari kekuatan moral dan intelektual bangsa yang dapat berkontribusi menjaga arah perjalanan Indonesia menuju masa depan yang lebih adil, berdaulat, dan bermartabat.
Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026.
Menguatkan akar tradisi, menjaga keutuhan negeri, dan menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dr. Budi Suryanto, S.H., M.H., M.Si.
Widyaiswara Ahli Utama — Praktisi Agraria 45 Tahun







