Kapolri Suyudi Ario Seto: Polri Diharapkan Penegakan Hukum Yang Profesional

Kapolri Suyudi Ario Seto: Polri Diharapkan Penegakan Hukum Yang Profesional
Teropongpost, KOTAMOBAGU — Kapolri Suyudi Ario Seto menghadapi fase baru kepemimpinan Kepolisian Negara Republik Indonesia setelah resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto. Momentum tersebut mendapat perhatian dari tokoh masyarakat Kotamobagu, Sudirman Sulaiman atau Haji Ninong, yang menyampaikan harapan agar kepemimpinan baru Polri semakin berorientasi pada pelayanan, perlindungan dan kedekatan dengan masyarakat.

Kapolri Suyudi Ario Seto resmi dilantik di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026), menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Pelantikan tersebut didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 96/POLRI Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kapolri.

Bagi Haji Ninong, pergantian Kapolri Suyudi Ario Seto bukan sekadar perubahan figur di pucuk pimpinan institusi. Pergantian kepemimpinan tersebut dinilai perlu diikuti kesinambungan pelayanan publik, penegakan hukum yang profesional, serta kemampuan Polri merespons kebutuhan masyarakat secara cepat dan proporsional. Harapan serupa juga menjadi bagian dari agenda awal Suyudi yang menekankan pelayanan publik, penegakan hukum yang adil dan kedekatan dengan masyarakat.

Haji Ninong menyampaikan ucapan selamat kepada Suyudi atas amanah baru tersebut. Menurutnya, jabatan Kapolri membawa tanggung jawab yang luas karena berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat terhadap keamanan, perlindungan dan kepastian hukum.

Read More

“Selamat kepada Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto atas amanah yang diberikan sebagai Kapolri. Semoga beliau diberikan kesehatan, kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas untuk bangsa dan negara,” ujar Haji Ninong, Sabtu (3/10/2026).

Menurut Haji Ninong, kepemimpinan kepolisian tidak semata-mata dapat diukur dari kemampuan mengelola organisasi dalam skala nasional. Dimensi yang tidak kalah penting adalah bagaimana kebijakan dan kinerja institusi diterjemahkan menjadi pelayanan yang dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

“Polisi adalah bagian dari masyarakat. Masyarakat membutuhkan polisi bukan hanya ketika terjadi persoalan hukum, tetapi juga ketika membutuhkan perlindungan, pertolongan dan rasa aman,” katanya.

Perspektif tersebut menempatkan hubungan polisi dan masyarakat sebagai salah satu indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan kepolisian. Kehadiran aparat, dalam pandangan Haji Ninong, idealnya tidak hanya terlihat ketika berlangsung penegakan hukum, tetapi juga ketika masyarakat membutuhkan bantuan dalam situasi sosial yang beragam.

Ia berharap orientasi pelayanan tetap menjadi bagian penting dalam kepemimpinan baru Polri. Menurutnya, citra kepolisian pada tingkat masyarakat banyak dibentuk melalui pengalaman langsung ketika warga berinteraksi dengan anggota polisi di lapangan.

Menghargai Pengabdian Listyo Sigit

Di tengah pergantian kepemimpinan tersebut, Haji Ninong juga memberikan apresiasi kepada Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang telah menyelesaikan masa tugasnya sebagai Kapolri. Listyo menjabat sebagai Kapolri sejak 27 Januari 2021 hingga 1 Oktober 2026 dan kemudian dilantik sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

“Terima kasih kepada Jenderal Listyo Sigit Prabowo atas pengabdian dan dedikasinya selama memimpin Polri. Tentu banyak hal yang telah dilakukan dan banyak pula tantangan yang telah dihadapi,” tutur Haji Ninong.

Menurut dia, pergantian pemimpin merupakan bagian dari dinamika kelembagaan. Karena itu, perubahan figur di pucuk pimpinan seharusnya tidak memutus kesinambungan program yang telah berjalan, terutama program yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat.

“Kebaikan yang sudah dilakukan tentu kita harapkan dapat dilanjutkan. Sementara hal-hal yang masih perlu diperbaiki bisa terus disempurnakan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa harapan terhadap kepemimpinan baru tidak selalu harus dimaknai sebagai penolakan terhadap kepemimpinan sebelumnya. Sebaliknya, proses pergantian dapat ditempatkan sebagai mekanisme evaluasi dan kesinambungan kelembagaan, dengan mempertahankan capaian yang relevan sekaligus memperbaiki aspek yang masih memerlukan pembenahan.

Kedekatan dengan Masyarakat Menjadi Ukuran

Bagi Haji Ninong, tantangan kepemimpinan baru Polri pada akhirnya berkaitan dengan kemampuan institusi menjaga kepercayaan masyarakat. Hubungan tersebut dibangun bukan hanya melalui kebijakan pada tingkat pusat, tetapi juga melalui perilaku dan kualitas pelayanan anggota kepolisian di daerah.

Harapan itu memiliki relevansi dengan arah awal kepemimpinan Suyudi. Setelah dilantik, Suyudi menyatakan komitmen untuk membawa Polri semakin dekat dengan masyarakat melalui pendekatan pelayanan dan kehadiran polisi di tengah warga.

Dengan demikian, kedekatan dengan masyarakat tidak cukup dipahami sebagai slogan kelembagaan. Implementasinya perlu terlihat dalam kemampuan menerima laporan, memberikan perlindungan, merespons persoalan secara tepat, serta memastikan proses penegakan hukum berlangsung sesuai ketentuan dan prinsip keadilan.

Haji Ninong berharap masyarakat dapat merasakan kehadiran polisi secara lebih nyata. Bukan hanya ketika suatu perkara telah berkembang menjadi persoalan hukum, tetapi sejak masyarakat membutuhkan pertolongan atau menghadapi situasi yang berpotensi mengganggu rasa aman.

Pergantian Kepemimpinan dan Kesinambungan Institusi

Pergantian dari Listyo Sigit kepada Suyudi juga memperlihatkan bahwa kepemimpinan institusi negara berlangsung dalam kerangka kesinambungan. Presiden Prabowo melantik Suyudi bersama Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri pada 1 Oktober 2026.

Haji Ninong memandang proses tersebut sebagai bagian dari perjalanan institusi yang perlu ditempatkan dalam semangat kebangsaan dan penghormatan terhadap tugas. Pemimpin baru membawa mandat baru, sementara pemimpin sebelumnya meninggalkan rekam pengabdian yang menjadi bagian dari perjalanan organisasi.

Dalam kerangka itu, pergantian kepemimpinan tidak semestinya berhenti pada perubahan struktur. Tantangan yang lebih substantif adalah memastikan bahwa perubahan tersebut menghasilkan peningkatan kualitas pelayanan dan semakin kuatnya hubungan antara institusi kepolisian dan masyarakat.

Dari perspektif masyarakat, ukuran keberhasilan kepemimpinan baru pada akhirnya akan terlihat dalam pengalaman konkret. Rasa aman, kemudahan memperoleh perlindungan, kepastian dalam proses hukum, serta respons aparat terhadap persoalan warga merupakan aspek yang lebih mudah dirasakan dibandingkan sekadar perubahan struktur organisasi.

Harapan dari Kotamobagu

Dari Kotamobagu, Haji Ninong menyampaikan harapan agar kepemimpinan Suyudi dapat memperkuat orientasi pelayanan Polri sekaligus menjaga profesionalitas institusi.

“Semoga di bawah kepemimpinan Jenderal Suyudi, Polri semakin dekat dengan masyarakat dan semakin kuat dalam memberikan pelayanan. Semoga beliau selalu diberikan kekuatan untuk menjalankan amanah,” kata Haji Ninong.

Ia juga menyampaikan doa bagi Listyo Sigit agar perjalanan pengabdian berikutnya diberikan kesehatan dan keberkahan. Penghargaan tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari sikap menghormati setiap orang yang telah menjalankan tanggung jawab publik.

“Terima kasih atas segala pengabdian untuk bangsa dan negara. Semoga apa yang telah dilakukan menjadi bagian dari amal kebaikan dan membawa keberkahan dalam perjalanan berikutnya,” ucapnya.

Pada akhirnya, bagi Haji Ninong, pergantian pimpinan Polri bukan terutama mengenai siapa yang datang atau siapa yang meninggalkan jabatan. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana amanah kelembagaan tetap berjalan dan pelayanan kepada masyarakat terus diperkuat.

Pesan tersebut menempatkan masyarakat sebagai salah satu titik ukur utama keberhasilan kepemimpinan kepolisian. Nama dan pangkat pejabat dapat berubah, tetapi pengalaman warga ketika memperoleh perlindungan, pertolongan dan kepastian hukum akan menjadi bagian yang lebih menentukan dalam membentuk kepercayaan publik.

Karena itu, harapan yang disampaikan dari Kotamobagu tersebut pada dasarnya berpusat pada tiga hal: kesinambungan pengabdian, peningkatan kualitas pelayanan dan kedekatan Polri dengan masyarakat.

Bagi Kapolri Suyudi Ario Seto, fase kepemimpinan baru tersebut menjadi ruang pembuktian atas mandat yang telah diberikan negara. Bagi masyarakat, pembuktian itu akan dinilai bukan hanya melalui kebijakan di tingkat pusat, melainkan melalui seberapa jauh kehadiran Polri dapat dirasakan sebagai institusi yang melindungi, melayani dan menegakkan hukum secara profesional.

“Semoga di bawah kepemimpinan Jenderal Suyudi, Polri semakin dekat dengan masyarakat dan semakin kuat dalam memberikan pelayanan. Semoga beliau selalu diberikan kekuatan untuk menjalankan amanah,” kata Haji Ninong.

Oleh : Haji Ninong

Tokoh Masyarakat Kotamobagu

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment