Teropongpost, Balikpapan— Pelayanan pastoral bagi prajurit TNI dan anggota Polri menjadi salah satu perhatian penting dalam karya Gereja Katolik di lingkungan militer. Melalui Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI), pendampingan rohani dikembangkan untuk menjangkau personel yang menjalankan tugas di berbagai wilayah, termasuk melalui pelayanan langsung dan pemanfaatan teknologi digital.
Pelayanan pastoral TNI-Polri dinilai penting karena jumlah pastor yang sekaligus berstatus sebagai anggota militer relatif terbatas. Kondisi tersebut mendorong OCI menghadirkan pendekatan pelayanan yang sesuai dengan karakter kehidupan prajurit, kebutuhan spiritual, serta dinamika penugasan yang kerap membatasi kesempatan untuk mengikuti kegiatan keagamaan secara langsung.
Romo Yos menjelaskan bahwa kehadiran OCI di lingkungan TNI dan Polri dimaksudkan untuk memastikan para personel tetap memperoleh pendampingan iman di tengah tanggung jawab profesional mereka. Pelayanan tersebut tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga memberikan ruang refleksi bagi prajurit dalam menjalani kehidupan pribadi, keluarga, dan pengabdian kepada negara.
“Keberadaan OCI dibutuhkan di lingkungan TNI dan Polri. Karena sangat sedikit pastor yang menjadi tentara, maka OCI menghadirkan pastor untuk melayani kehidupan militer dan Polri,” ujar Romo Yos.
Dalam pelaksanaannya, pelayanan pastoral tersebut berada dalam kerangka karya Gereja Katolik yang dipimpin Kardinal Suharyo dan didukung Dewan Karya Pastoral. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menjaga kesinambungan pendampingan bagi umat Katolik yang bertugas di lingkungan militer dan kepolisian.
Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan ialah misa rutin setiap Jumat pertama bagi anggota TNI dan Polri. Kegiatan ini menjadi sarana bagi personel untuk memperdalam kehidupan iman sekaligus mempererat hubungan persaudaraan di antara sesama umat dalam lingkungan kedinasan.
Meski demikian, pelayanan secara langsung menghadapi tantangan geografis. Luasnya wilayah penugasan dan beragamnya lokasi penempatan personel membuat pendekatan pastoral perlu disesuaikan agar pendampingan tidak hanya terpusat di wilayah tertentu.
Untuk menjawab tantangan tersebut, OCI mengembangkan pelayanan berbasis teknologi digital, termasuk pertemuan melalui aplikasi Zoom. Pendekatan ini diharapkan dapat membuka akses bagi anggota TNI dan Polri yang berada jauh dari pusat kegiatan pastoral, sehingga mereka tetap dapat terhubung dengan komunitas Gereja.
“Pelayanan melalui Zoom akan terus kami kembangkan untuk menjangkau anggota yang berada di berbagai daerah. Jarak tidak boleh membuat umat merasa jauh dari Gereja,” tutur Romo Yos.
Pemanfaatan teknologi digital memperlihatkan bahwa pelayanan keagamaan dapat beradaptasi dengan perubahan pola komunikasi masyarakat. Pertemuan daring tidak sepenuhnya menggantikan interaksi tatap muka, tetapi dapat menjadi pelengkap untuk menjaga kesinambungan pembinaan iman ketika kondisi penugasan membuat pertemuan langsung sulit dilakukan.
Bagi Romo Yos, pendampingan pastoral terhadap prajurit memiliki dimensi yang lebih luas daripada penyelenggaraan ibadah. Prajurit memang dituntut memiliki disiplin, ketahanan, dan kesiapan menghadapi berbagai risiko dalam menjalankan tugas. Namun, mereka tetap memiliki kebutuhan manusiawi untuk merefleksikan pengalaman hidup, menjaga relasi keluarga, dan memperkuat keyakinan yang menjadi sumber nilai dalam pengabdian.
Dalam konteks tersebut, pelayanan teritorial pastoral dipandang sebagai salah satu bentuk pendampingan yang relevan dengan kehidupan prajurit. Pendekatan ini menempatkan personel bukan hanya sebagai pelaksana tugas pertahanan dan keamanan, melainkan juga sebagai individu yang membutuhkan dukungan moral, spiritual, dan sosial.
“Pelayanan teritorial pastoral sangat berarti. Ini merupakan bagian dari Operasi Militer Selain Perang, terutama dalam membangun ketahanan moral, persaudaraan dan kehidupan bersama,” kata Romo Yos.
Kunjungan Kardinal Suharyo ke Markas Komando Daerah Militer VI/Mulawarman menjadi momentum perjumpaan antara Gereja dan personel yang menjalankan tugas menjaga keamanan serta kedaulatan negara. Pertemuan tersebut menegaskan pentingnya pendampingan rohani bagi prajurit, sekaligus membuka ruang bagi penguatan hubungan antara kehidupan iman dan tanggung jawab kebangsaan.
Kehadiran Gereja dalam lingkungan militer dan kepolisian, sebagaimana digambarkan dalam pelayanan OCI, diarahkan pada pendampingan umat dan penguatan nilai kemanusiaan. Fokusnya adalah memberikan sapaan, mendengarkan pergulatan kehidupan, mendukung keluarga, serta membantu umat menjadikan iman sebagai sumber kekuatan dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, pelayanan keagamaan juga memiliki relevansi dalam merawat persaudaraan dan penghormatan terhadap perbedaan. Penguatan kehidupan spiritual dapat berjalan berdampingan dengan komitmen terhadap persatuan, selama dilaksanakan dengan menghormati keberagaman serta kepentingan bersama.
Pada akhirnya, pengembangan pelayanan pastoral TNI-Polri melalui pendekatan langsung dan digital menunjukkan pentingnya sistem pendampingan yang adaptif terhadap kebutuhan umat. Dengan pelayanan yang berkelanjutan, OCI diharapkan dapat membantu prajurit menjaga keseimbangan antara tugas profesional, kehidupan keluarga, dan pertumbuhan iman, sekaligus memperkuat semangat persaudaraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.







