Teropongpost, Jakarta, Ada persoalan mendasar dalam perjalanan koperasi Indonesia: ketika perkoperasian kembali memperoleh tempat penting dalam agenda pembangunan nasional, pemahaman masyarakat mengenai jati diri koperasi masih perlu diperkuat. SPEKTRA dan Tri Dharma Perguruan Tinggi menawarkan ruang untuk menjawab persoalan tersebut melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian yang berorientasi pada penguatan ekonomi rakyat. Koperasi seharusnya tidak dipersempit menjadi urusan administrasi atau sekadar instrumen program pemerintah, melainkan dipahami sebagai sarana demokratisasi ekonomi yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam menentukan masa depan ekonominya.
Dalam konteks itu, Sekolah Penggerak Koperasi Nusantara (SPEKTRA), yang diinisiasi Pentahelix Center, hadir sebagai upaya memperkuat pemahaman ideologis sekaligus kapasitas praktis perkoperasian. Kehadirannya relevan dengan agenda pembangunan koperasi nasional karena pembentukan lembaga dan badan usaha saja tidak cukup untuk menjamin tumbuhnya gerakan ekonomi yang mandiri. Koperasi memerlukan anggota yang memahami haknya, pengurus yang kompeten, serta budaya organisasi yang menjunjung partisipasi dan demokrasi.
Hubungan antara SPEKTRA dan Tri Dharma Perguruan Tinggi menjadi penting karena perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik yang dapat digunakan untuk memperkuat gerakan koperasi. Pendidikan dapat membangun pengetahuan dan kesadaran berkoperasi, penelitian dapat menghasilkan solusi atas persoalan nyata, sedangkan pengabdian kepada masyarakat dapat diterjemahkan menjadi pendampingan berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, kampus tidak hanya membicarakan ekonomi rakyat dari ruang akademik, tetapi turut bekerja bersama masyarakat untuk memperkuat kemandirian ekonomi.
SPEKTRA dan Kegelisahan atas Masa Depan Koperasi
SPEKTRA diperkenalkan dalam rangkaian Festival Gunung Manglayang 2026 di Sumedang pada 17 Oktober 2026. Festival yang mempertemukan puisi, petani, koperasi, musik bambu, dan film itu menjadi ruang perjumpaan antara kebudayaan, pengalaman masyarakat, dan gagasan mengenai masa depan ekonomi rakyat.
Pemilihan ruang kebudayaan sebagai tempat memperkenalkan SPEKTRA membawa pesan bahwa koperasi tidak dapat dibangun hanya melalui pendekatan teknis dan administratif. Koperasi juga membutuhkan kesadaran kolektif, kepercayaan, solidaritas, serta pemahaman mengenai kepentingan bersama. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui proses pendidikan dan praktik sosial yang berlangsung secara berkelanjutan.







