SPEKTRA dan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Mengembalikan Gerakan Koperasi ke Tengah Kehidupan Rakyat

SPEKTRA dan Tri Dharma Perguruan Tinggi: Mengembalikan Gerakan Koperasi ke Tengah Kehidupan Rakyat

Gagasan SPEKTRA berangkat dari kegelisahan terhadap cara masyarakat memahami koperasi. Ketika koperasi dipersepsikan sebagai organisasi bisnis yang rumit, sebagian masyarakat berpotensi menjauh sebelum mengenali prinsip dasar dan manfaatnya. Padahal, koperasi memungkinkan individu dengan kepentingan ekonomi yang beririsan untuk membangun usaha bersama, mengambil keputusan secara demokratis, dan membagikan manfaat berdasarkan mekanisme yang disepakati.

Alip Purnomo, penggagas SPEKTRA melalui Pentahelix Center, mengungkapkan kegelisahan tersebut:

“Banyak persoalan koperasi ternyata bukan semata-mata terletak pada koperasinya, melainkan pada cara pandang yang selama ini keliru. Koperasi terus dipersepsikan sebagai bisnis yang rumit hingga membentuk semacam lingkaran setan yang membuat masyarakat semakin menjauhinya. Ada semacam upaya mengelabui masyarakat tentang hakikat koperasi. Padahal koperasi semestinya menjadi pintu masuk demokratisasi ekonomi. Koperasi adalah jalan konstitusional menuju kesejahteraan rakyat yang sejati.”

Read More

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan koperasi dalam dimensi yang lebih luas daripada permodalan, manajemen, teknologi, dan akses pasar. Tantangan utamanya juga menyangkut siapa yang memiliki kendali atas keputusan ekonomi dan bagaimana manfaat usaha didistribusikan. Apabila anggota tidak memahami kedudukannya sebagai pemilik sekaligus pengguna layanan koperasi, organisasi tersebut berisiko kehilangan karakter demokratisnya.

Karena itu, pendidikan perkoperasian perlu melampaui pengajaran mengenai prosedur pendirian, pencatatan administrasi, dan pelaporan keuangan. Pendidikan tersebut harus membangun pemahaman tentang prinsip koperasi, tata kelola yang bertanggung jawab, partisipasi anggota, serta kemampuan mengelola usaha secara profesional.

SPEKTRA dirancang dengan tiga orientasi utama: memperkokoh ideologi koperasi, menjadikan koperasi sebagai sarana perjuangan ekonomi rakyat, dan memperluas pemahaman mengenai kebijakan nasional perkoperasian. Ketiga orientasi ini dapat menjadi landasan untuk membangun pendidikan yang menghubungkan nilai, pengetahuan, dan keterampilan praktis.

Momentum KDKMP dan Kebutuhan Membangun Kapasitas Manusia

Kehadiran SPEKTRA bertepatan dengan agenda besar perkoperasian nasional pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, terutama program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang menyasar sekitar 83.000 koperasi di seluruh Indonesia.

Skala program tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan untuk membangun kapasitas sumber daya manusia dalam gerakan koperasi. Pembentukan koperasi dalam jumlah besar perlu diikuti pengembangan kemampuan anggota, pengurus, pengawas, dan manajer. Tanpa proses tersebut, keberadaan organisasi secara formal belum tentu menjamin kegiatan usaha yang sehat maupun partisipasi anggota yang bermakna.

Koperasi tidak cukup dinilai dari tersedianya bangunan, struktur kepengurusan, dokumen legalitas, atau kegiatan usaha. Ukuran yang lebih substantif mencakup kemampuan anggota berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, transparansi pengelolaan keuangan, kualitas layanan, keberlanjutan usaha, serta pertanggungjawaban pengurus kepada anggota.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.