Teropongpost, SUMEDANG — Festival Manglayang 2026 menjadi ruang pertemuan antara kebudayaan, gerakan petani, dan penguatan ekonomi rakyat melalui peluncuran Sekolah Penggerak Koperasi Nusantara (SPEKTRA) oleh Pentahelix Center, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 23.00 WIB ini menggabungkan diskusi perkoperasian, pertunjukan seni, pembacaan puisi, musik bambu, dan pemutaran film untuk mengangkat isu kemandirian ekonomi masyarakat.
Melalui Festival Manglayang 2026, Pentahelix Center mendorong pemahaman bahwa koperasi tidak semestinya dipandang hanya sebagai badan usaha dengan urusan administrasi yang kompleks. Koperasi juga dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperkuat posisi tawar, mengelola sumber daya secara bersama, dan memperluas partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Peluncuran SPEKTRA menjadi salah satu agenda utama Festival Manglayang 2026 tersebut. Sekolah ini dirancang sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan pengalaman praktis masyarakat, pengetahuan akademis, dan pemahaman mengenai prinsip perkoperasian. Melalui pendekatan dialogis, peserta diajak mengidentifikasi persoalan nyata serta menelaah kemungkinan koperasi menjadi instrumen demokratisasi ekonomi.
Ketua Pentahelix Center, Alip Purnomo, menilai tantangan pengembangan koperasi tidak hanya berkaitan dengan kapasitas pengelolaan organisasi, tetapi juga dengan persepsi masyarakat yang selama ini menganggap koperasi sulit dijalankan. Menurutnya, perubahan cara pandang menjadi bagian penting dalam memperluas keterlibatan masyarakat dalam gerakan koperasi.
“Banyak persoalan koperasi ternyata bukan semata-mata terletak pada koperasinya, melainkan pada cara pandang yang selama ini keliru. Koperasi terus dipersepsikan sebagai bisnis yang rumit hingga membentuk semacam lingkaran setan yang membuat masyarakat semakin menjauhinya. Ada semacam upaya mengelabui masyarakat tentang hakikat koperasi yang sesungguhnya merupakan pintu masuk demokratisasi ekonomi. Padahal, koperasi adalah jalan konstitusional untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat yang sejati. Di kelas SPEKTRA, persoalan ini dibuka dan dibicarakan secara kritis,” kata Alip.
SPEKTRA Buka Ruang Belajar Koperasi Berbasis Pengalaman Lapangan
Sesi perdana SPEKTRA menghadirkan Amrul Hakim, pegiat koperasi asal Kendal yang turut menginisiasi Koperasi Film Indonesia. Selain aktif dalam gerakan koperasi, Amrul dikenal sebagai jurnalis, produser, dan sutradara. Dalam forum tersebut, ia mengajak peserta mengulas kesalahpahaman tentang koperasi serta membahas tantangan untuk membangun usaha bersama yang berpijak pada kepentingan anggota.
Diskusi berlangsung dalam format melingkar dengan melibatkan petani pangan, petani kopi, nelayan, mahasiswa, dosen, aktivis petani, dan pegiat koperasi. Pertukaran pengalaman tersebut memberi kesempatan kepada peserta untuk membahas persoalan perkoperasian berdasarkan kondisi yang mereka hadapi, bukan hanya melalui penjelasan konseptual.
Bagi Pentahelix Center, pendekatan pembelajaran seperti ini diharapkan dapat membantu peserta memahami koperasi sebagai organisasi ekonomi yang bertumpu pada partisipasi anggota. Penguatan pengetahuan perlu disertai kemampuan mengidentifikasi kebutuhan bersama, menyusun tata kelola yang akuntabel, serta membangun mekanisme usaha yang sesuai dengan kondisi komunitas.
Perspektif tersebut mendapat perhatian dari para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (PPTPI) dari Sumedang dan Indramayu. Bagi kelompok petani, koperasi dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengorganisasikan kepentingan ekonomi, memperkuat posisi tawar, dan mengembangkan potensi secara kolektif.
Meski demikian, keberhasilan koperasi tidak cukup ditentukan oleh gagasan atau pembentukan kelembagaan. Tata kelola yang transparan, partisipasi anggota, kapasitas pengurus, dan kemampuan menjawab kebutuhan ekonomi riil tetap menjadi unsur penting dalam keberlanjutan organisasi.
Puisi Menjadi Medium untuk Menyuarakan Persoalan Sosial
Selain membahas koperasi, Festival Manglayang 2026 menghadirkan rangkaian kegiatan seni dan kebudayaan yang memperluas ruang refleksi mengenai kehidupan masyarakat. Salah satu agenda yang diselenggarakan ialah Temu Penyair Tingkat ASEAN dan pembacaan puisi yang mempertemukan penyair dari sejumlah daerah dan negara, termasuk Malaysia.
Salah satu penyair yang hadir adalah Bung Kancil. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, puisi menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan sosial, menggambarkan pengalaman manusia, dan menyuarakan harapan terhadap kehidupan yang lebih adil.
Kehadiran sastra dalam festival memperlihatkan bahwa isu ekonomi rakyat dapat dibicarakan melalui pendekatan kebudayaan. Pengalaman petani, ketimpangan, dan perjuangan membangun kehidupan yang lebih sejahtera tidak hanya dapat dianalisis melalui data ekonomi, tetapi juga dapat disampaikan melalui ekspresi artistik yang membuka ruang empati dan refleksi.
Musik Bambu Songah Mengangkat Tradisi Lokal Sumedang
Festival ini juga menampilkan musik bambu Songah dari Desa Citengah, Sumedang. Kesenian tersebut berakar pada tradisi penggunaan songsong, yaitu bambu yang digunakan untuk meniup bara api di dapur. Dalam perkembangannya, unsur tradisional tersebut diolah menjadi ekspresi musikal khas masyarakat setempat.
Penampilan Songah menegaskan bahwa tradisi lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu. Dengan kreativitas dan keterlibatan masyarakat, warisan budaya dapat terus berkembang sekaligus menjadi bagian dari identitas komunitas.
Penyelenggaraan pertunjukan tersebut juga mempertemukan agenda pelestarian kebudayaan dengan diskusi tentang kemandirian masyarakat. Keduanya memiliki titik temu pada upaya menjaga kemampuan komunitas untuk mengelola potensi yang dimiliki, baik dalam ranah ekonomi maupun kebudayaan.
Film Seribu Bayang Purnama Angkat Perjuangan Petani
Pada malam hari, peserta menyaksikan pemutaran film Seribu Bayang Purnama yang mengangkat perjuangan petani menuju kemandirian, efisiensi biaya produksi, dan peningkatan kesejahteraan. Pembuat film, Yahdi Jamhur, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Pemutaran film dilanjutkan dengan sesi refleksi yang melibatkan peserta secara sukarela. Suroto, pegiat koperasi yang memiliki pengalaman di tingkat internasional, membuka percakapan. Diskusi kemudian berlanjut dengan keterlibatan Putro Santoso, aktivis petani, serta peserta dari kalangan akademisi dan masyarakat.
Percakapan tersebut berkembang pada pembahasan mengenai tantangan yang dihadapi petani dan kemungkinan koperasi membantu memperkuat posisi ekonomi mereka. Film menjadi pintu masuk untuk mendiskusikan persoalan produksi, efisiensi biaya, serta pentingnya pengorganisasian ekonomi yang berpihak pada kebutuhan petani.
Melalui rangkaian ini, festival berupaya menghubungkan pengalaman yang disampaikan melalui karya seni dengan persoalan konkret dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan tersebut memungkinkan isu kemandirian petani dibicarakan dari berbagai sudut pandang, mulai dari pengalaman produksi hingga penguatan kelembagaan ekonomi.
Kolaborasi Lintas Komunitas untuk Memperkuat Ekonomi Rakyat
Festival Manglayang 2026 diselenggarakan melalui kolaborasi Pentahelix Center dengan Jala Bhumi Kultura (JBK), komunitas seni dan budaya Sumedang, Universitas MH Thamrin, Koperasi Petani Kopi Manglayang Timur (SIKOMAT), Kelompok Tani Berdikari, serta Sekolah Relasi Iklim (SRI).
Kolaborasi tersebut mempertemukan pelaku seni, akademisi, petani, dan pegiat koperasi dalam satu agenda yang menghubungkan kebudayaan dengan pemberdayaan ekonomi. Keterlibatan berbagai kelompok diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kerja sama berdasarkan kebutuhan masing-masing komunitas.
Bagi Pentahelix Center, kemandirian ekonomi masyarakat tidak hanya bergantung pada modal atau pembentukan organisasi. Pengetahuan, kesadaran kritis, kemampuan mengelola potensi, dan kemauan membangun kerja sama juga diperlukan agar masyarakat dapat mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah kegiatan ekonominya.
Dalam konteks tersebut, SPEKTRA diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang tidak berhenti pada pemahaman teori. Pengalaman lapangan dan diskusi kritis perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata, termasuk penguatan tata kelola koperasi dan pengembangan usaha yang memberikan manfaat bagi anggota.
Festival Manglayang 2026 pada akhirnya mempertemukan tiga unsur yang saling berkaitan: seni sebagai ruang ekspresi, petani sebagai pelaku utama ekonomi produksi, dan koperasi sebagai salah satu instrumen pengorganisasian kekuatan ekonomi bersama. Melalui peluncuran SPEKTRA, Pentahelix Center mendorong agar pertemuan tersebut berkembang menjadi proses pembelajaran dan kolaborasi yang berkelanjutan.
Di Manglayang, kebudayaan tidak hanya ditampilkan sebagai hiburan, sementara petani tidak sekadar menjadi objek cerita dan koperasi tidak berhenti sebagai bahan diskusi. Ketiganya ditempatkan dalam satu ikhtiar untuk memperkuat partisipasi masyarakat, mengembangkan potensi lokal, dan membangun ekonomi rakyat yang berakar pada kebudayaan serta bertumpu pada kekuatan kolektif.







