Teropongpost, JAKARTA — Universitas Mohammad Husni Thamrin (UMHT) dan Pentahelix Center Indonesia memperkuat kolaborasi pengembangan gerakan koperasi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang berfokus pada pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Kerja sama ini diarahkan untuk menghubungkan pendidikan akademik dengan kebutuhan masyarakat, termasuk penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan ekonomi berbasis koperasi.
Kolaborasi UMHT dan Pentahelix Center Indonesia tersebut berlangsung menjelang pelaksanaan Sekolah Penggerak Koperasi Nusantara (SPEKTRA) pada 17 Oktober 2026. Program ini menjadi salah satu agenda yang diharapkan dapat mempertemukan pengetahuan perguruan tinggi dengan praktik pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui kerja sama tersebut, UMHT dan Pentahelix Center Indonesia membuka ruang kolaborasi dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, program magang, seminar, kuliah pakar, serta publikasi ilmiah bersama. Nota kesepahaman yang ditandatangani pada 7 Oktober 2026 itu berlaku selama tiga tahun sebagai landasan pengembangan program kolaboratif kedua lembaga.
Penandatanganan dilakukan oleh Rektor UMHT, Dr. Ningky Sasanti Munir, MBA., MA., yang akrab disapa Nungki, bersama Ketua Pentahelix Center Indonesia, Alip Purnomo. Kedua pihak menilai hubungan kelembagaan yang telah terjalin sebelumnya dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Nungki menyampaikan bahwa kedekatan kedua lembaga bukan sesuatu yang baru terbentuk. Menurutnya, sejumlah kegiatan yang telah dilakukan bersama menjadi modal untuk memperluas kolaborasi dalam bidang pendidikan tinggi dan pemberdayaan masyarakat.
“Saking sudah dekatnya, ibarat sudah lama pacaran. Khawatir kita yang pacaran, orang lain yang nikahan,” ujar Nungki.
Sementara itu, Alip Purnomo menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Ia berpandangan bahwa aktivitas akademik perlu dibangun berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan, bukan hanya berorientasi pada pengembangan pengetahuan di lingkungan kampus.
“Pentahelix Center mendorong kampus untuk kembali ke pangkuan rakyat. Pembelajaran harus sesuai dengan realitas lapangan dan punya tanggung jawab sosial terhadap apa yang saat ini menjadi penderitaan rakyat,” ujar Alip.
SPEKTRA 2026 Jadi Ruang Pengembangan Kompetensi Penggerak Koperasi
Salah satu bentuk konkret kolaborasi tersebut adalah dukungan UMHT terhadap Sekolah Penggerak Koperasi Nusantara atau SPEKTRA. Program yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Oktober 2026 ini dirancang sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas para penggerak koperasi melalui pendekatan pembelajaran dan pertukaran pengalaman.
UMHT bahkan menawarkan kemungkinan pengembangan program magister atau strata dua (S2) dengan kurikulum khusus bagi penggerak koperasi. Gagasan ini membuka peluang untuk menghubungkan pendidikan formal dengan kebutuhan peningkatan kompetensi pengelola dan penggerak koperasi.
Pengembangan kurikulum khusus tersebut berpotensi menjadi langkah strategis apabila dirancang berdasarkan kebutuhan sektor koperasi, tantangan pengelolaan organisasi, serta dinamika ekonomi masyarakat. Pelaksanaannya tentu memerlukan perencanaan akademik dan pemenuhan ketentuan pendidikan tinggi yang berlaku.
Bagi Pentahelix Center Indonesia, keterlibatan perguruan tinggi dalam SPEKTRA diharapkan memperluas akses terhadap pengetahuan, pendampingan, dan pengembangan kapasitas. Dengan demikian, koperasi tidak hanya dipahami sebagai badan usaha, tetapi juga sebagai instrumen penguatan ekonomi masyarakat yang membutuhkan tata kelola dan sumber daya manusia yang kompeten.
Festival Gunung Manglayang 2026 Perluas Kolaborasi Lintas Sektor
SPEKTRA merupakan bagian dari rangkaian Festival Gunung Manglayang 2026 di Kabupaten Sumedang. Festival tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat dengan menghubungkan ekonomi kerakyatan, kebudayaan, pengetahuan, dan kehidupan petani.
Selain sekolah penggerak koperasi, agenda festival mencakup Temu Penyair Tingkat ASEAN, SIKOMAT Cupping Session, pemutaran film Seribu Bayang Purnama, serta dialog bersama petani. Beragam kegiatan tersebut memperlihatkan pendekatan lintas disiplin yang berupaya mempertemukan pelaku budaya, komunitas, akademisi, dan kelompok masyarakat.
Menurut Alip, rangkaian kegiatan itu tidak semata-mata dimaksudkan sebagai hiburan atau perayaan. Festival juga diposisikan sebagai ruang pertukaran gagasan dan pengalaman agar berbagai kelompok dapat saling memahami persoalan serta potensi yang berkembang di masyarakat.
Pendekatan tersebut menempatkan dialog dan interaksi langsung sebagai bagian penting dari proses pembelajaran sosial. Melalui pertemuan lintas sektor, pengalaman petani, pengetahuan akademik, praktik ekonomi, dan ekspresi kebudayaan diharapkan dapat saling melengkapi.
Jembatan antara Kampus, Pemerintah, dan Masyarakat
Selain menjalin kerja sama dengan UMHT, Pentahelix Center Indonesia berupaya mempertemukan perguruan tinggi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, badan usaha, media, dan komunitas. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi pelaksanaan program yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satu langkah yang tengah dijajaki adalah kerja sama antara UMHT dan Pemerintah Kabupaten Sumedang. Menurut informasi yang disampaikan Alip, kerja sama tersebut direncanakan untuk segera diformalkan.
“Yang kita bangun bukan sekadar kerja sama antar-institusi, tetapi jembatan antara pengetahuan kampus, kebutuhan pemerintah, dan realitas rakyat,” kata Alip.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kemitraan yang tidak berhenti pada penandatanganan dokumen formal. Keberhasilan kolaborasi akan sangat ditentukan oleh pelaksanaan program, kejelasan sasaran, serta manfaat yang dapat diukur bagi kelompok masyarakat yang menjadi penerima dampak.
Dalam konteks Tridarma Perguruan Tinggi, kemitraan semacam ini dapat menjadi sarana untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan yang dihasilkan kampus berpeluang memberikan kontribusi lebih besar apabila dikembangkan bersama pemangku kepentingan yang memahami kebutuhan lapangan.
Melalui MoU tersebut, UMHT dan Pentahelix Center Indonesia berharap pengembangan gerakan koperasi dapat berjalan beriringan dengan perluasan peran sosial perguruan tinggi. Pelaksanaan SPEKTRA 2026 menjadi salah satu agenda awal yang diharapkan mampu menerjemahkan komitmen kelembagaan menjadi kegiatan nyata.
Pada akhirnya, nilai strategis kerja sama ini terletak pada kemampuannya membangun hubungan berkelanjutan antara dunia akademik, gerakan koperasi, pemerintah, dan masyarakat. Konsistensi pelaksanaan program serta evaluasi terhadap hasilnya akan menjadi faktor penting untuk memastikan kolaborasi tersebut memberikan kontribusi nyata bagi penguatan ekonomi kerakyatan.







