JATMAN Jawa Barat Perkuat Kaderisasi dan Tradisi Keilmuan, Prof. Budi Suryanto Bicara Tantangan Organisasi Keagamaan:

JATMAN Jawa Barat Perkuat Kaderisasi dan Tradisi Keilmuan, Prof. Budi Suryanto  Bicara Tantangan Organisasi Keagamaan:
Teropongpost, Bandung — JATMAN Jawa Barat memasuki masa khidmat 2026–2031 dengan menempatkan penguatan kaderisasi, kesinambungan tradisi keilmuan, dan pengabdian sosial sebagai bagian penting dari agenda organisasi. Dalam kepengurusan baru tersebut, Profesor Dr. H. Budi Suryanto, S.H., M.H., M.Si. mendapat amanah sebagai Anggota pada jajaran Mustafad Idarah Wustha Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) Provinsi Jawa Barat.

Amanah JATMAN Jawa Barat tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Idarah Aliyyah JATMAN Nomor 196.SK-JATMAN.I-A.1-A.01.06.2026 tentang Pengesahan Susunan Pengurus Idarah Wustha JATMAN Provinsi Jawa Barat Masa Khidmat 2026–2031. Keputusan itu menjadi dasar formal bagi susunan kepengurusan baru sekaligus menegaskan keberlanjutan pengabdian Prof. Budi dalam organisasi keagamaan.

Dalam konteks JATMAN Jawa Barat, penetapan tersebut merupakan kelanjutan dari proses Musyawarah Idarah Wustha Khassah JATMAN Jawa Barat yang berlangsung di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, pada 3 Mei 2026. SK tersebut kemudian ditetapkan di Jakarta pada 17 Juni 2026, dengan nama Dr. H. Budi Suryanto tercantum sebagai Anggota pada jajaran Mustafad.

Penunjukan tersebut sekaligus melanjutkan rekam pengabdian Prof. Budi yang telah berlangsung sejak 1999. Berdasarkan daftar riwayat kepengurusan yang disusun pada 2025, keterlibatannya mencakup sejumlah posisi di lingkungan PCNU Kota Bekasi, PBNU Pusat, hingga JATMAN Jawa Barat. Rentang pengalaman tersebut memperlihatkan perjalanan organisasi yang berlangsung lebih dari dua dekade.

Di PCNU Kota Bekasi, Prof. Budi mengawali pengabdiannya sebagai Wakil Bendahara periode 1999–2004. Ia kemudian dipercaya menduduki posisi Wakil Tanfidziyah untuk periode 2004–2009 dan 2009–2014. Setelah itu, pengabdiannya berlanjut sebagai Mustasyar PCNU Kota Bekasi selama dua periode, yakni 2014–2019 dan 2019–2024.

Pengalaman organisasi tersebut kemudian berkembang di tingkat PBNU Pusat. Prof. Budi tercatat sebagai Pengurus LPPNU dan Wakaf pada periode 2009–2014 serta 2014–2019. Sementara di lingkungan JATMAN PBNU Jawa Barat, sejak 2025 ia menjalankan amanah sebagai Penasihat/Mustafad sebelum kembali mendapat kepercayaan dalam kepengurusan masa khidmat 2026–2031.

Amanah sebagai Orientasi Pengabdian

Dalam wawancara mendalam dengan JurnalPatroliNews, Prof. Budi menegaskan bahwa posisi barunya di JATMAN Jawa Barat tidak dipandang sebagai pencapaian struktural semata. Ia menempatkan amanah tersebut sebagai tanggung jawab moral yang harus diwujudkan melalui kontribusi nyata.

“Saya memandang ini pertama-tama sebagai amanah, bukan sebagai sebuah jabatan dalam pengertian kedudukan semata,” ujar Prof. Budi, Minggu, (3/10/2026).

Pandangan tersebut menempatkan kepemimpinan organisasi dalam kerangka pengabdian, bukan sekadar distribusi posisi. Menurut Prof. Budi, keterlibatan dalam organisasi keagamaan membawa konsekuensi moral untuk menjaga nilai, tradisi keilmuan, serta kesinambungan pengabdian kepada masyarakat.

“Ketika seseorang dipercaya berada dalam sebuah organisasi keagamaan, tentu ada tanggung jawab moral yang melekat. Kita tidak hanya berbicara mengenai struktur organisasi, tetapi juga mengenai bagaimana nilai-nilai yang menjadi dasar perjuangan organisasi itu dapat terus dijaga dan diwariskan,” katanya.

Dengan perspektif tersebut, kontribusi seorang pengurus tidak semestinya diukur hanya berdasarkan nama jabatan. Setiap unsur organisasi memiliki fungsi yang saling melengkapi, sementara efektivitas pengabdian pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan menerjemahkan mandat organisasi menjadi kerja yang memberikan manfaat.

Pengalaman Organisasi sebagai Proses Pembelajaran

Rentang pengabdian sejak 1999 membuat Prof. Budi berinteraksi dengan berbagai jenjang dan fungsi organisasi. Pengalaman di PCNU Kota Bekasi, PBNU Pusat, dan JATMAN Jawa Barat membentuk perspektif mengenai bagaimana organisasi merespons perubahan, mengelola perbedaan, serta membangun kesinambungan kepemimpinan.

Bagi Prof. Budi, pengalaman tersebut bukan sekadar catatan historis. Organisasi juga menjadi ruang pembelajaran sosial yang mempertemukan berbagai karakter, pandangan dan kebutuhan masyarakat.

“Saya belajar bahwa organisasi adalah tempat untuk mengabdi dan belajar memahami orang lain,” tuturnya.

Ia menilai setiap periode kepengurusan memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu, komunikasi, penghormatan terhadap perbedaan dan kemampuan menemukan titik temu menjadi unsur penting untuk menjaga keberlanjutan organisasi.

Tradisi Keilmuan di Tengah Perubahan Teknologi

Tantangan organisasi keagamaan semakin kompleks seiring perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Pola komunikasi masyarakat berubah, terutama di kalangan generasi muda yang memperoleh informasi melalui berbagai platform digital.

Prof. Budi memandang perubahan tersebut tidak semestinya diposisikan sebagai ancaman terhadap tradisi. Sebaliknya, kemajuan teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas jangkauan nilai-nilai keagamaan selama substansi tradisi tetap dipertahankan.

“Tradisi tidak harus dipertentangkan dengan kemajuan. Yang diperlukan adalah bagaimana nilai-nilai luhur tetap menjadi pegangan, sementara cara menyampaikannya dapat menyesuaikan perkembangan masyarakat,” ujarnya.

Dalam kerangka tersebut, pendekatan kepada generasi muda perlu mengalami penyesuaian. Nilai spiritual, akhlak dan tradisi keilmuan tetap menjadi fondasi, tetapi metode komunikasi harus mampu menjangkau pengalaman serta persoalan yang dihadapi generasi baru.

“Generasi muda harus diajak berdialog, bukan sekadar diberi ceramah,” tegasnya.

Kaderisasi Menjadi Agenda Strategis

Salah satu perhatian Prof. Budi dalam kepengurusan JATMAN Jawa Barat adalah keberadaan Lajnah GEMMATAN (Generasi Muda & Mahasiswa Ahli Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah). Keberadaan unsur generasi muda dan mahasiswa dinilai penting untuk memastikan kesinambungan organisasi dalam jangka panjang.

Menurutnya, generasi muda tidak cukup ditempatkan sebagai peserta atau objek kegiatan. Mereka perlu memperoleh kesempatan untuk belajar, berdiskusi, mengembangkan kemampuan organisasi dan secara bertahap mengambil tanggung jawab.

“Generasi muda dan mahasiswa adalah kelompok yang akan meneruskan perjalanan organisasi pada masa yang akan datang. Karena itu, mereka tidak cukup hanya dijadikan objek kegiatan,” ujarnya.

Kaderisasi dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan regenerasi kepengurusan. Lebih jauh, proses tersebut menjadi instrumen untuk membangun kapasitas kepemimpinan yang mampu memahami tradisi sekaligus membaca perubahan sosial.

Struktur Organisasi Harus Menghasilkan Program

Kepengurusan JATMAN Jawa Barat masa khidmat 2026–2031 memiliki sejumlah bidang pengabdian, antara lain dakwah tasawuf dan tarekat, penelitian serta pengkajian turats dan sanad, pelatihan dan kaderisasi tarekat, kerja sama antarlembaga, generasi muda dan mahasiswa, serta perempuan Ahli Thariqah.

Menurut Prof. Budi, pembagian bidang tersebut menunjukkan luasnya ruang kontribusi yang dapat dikembangkan organisasi. Namun, struktur administratif perlu diterjemahkan menjadi program yang terukur dan memiliki dampak terhadap masyarakat.

“Jangan sampai organisasi hanya kuat secara administratif, tetapi lemah dalam implementasi,” katanya.

Pandangan tersebut menempatkan efektivitas organisasi pada kemampuan menghubungkan struktur, program dan hasil. Dengan demikian, keberadaan bidang-bidang dalam kepengurusan tidak berhenti pada pembagian kewenangan, tetapi diarahkan untuk menghasilkan kegiatan yang relevan dengan kebutuhan jamaah dan masyarakat.

Prof. Budi juga menilai nilai-nilai tasawuf tidak semestinya berhenti pada pengalaman spiritual individual. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, kepedulian dan kemanfaatan bagi sesama.

Memperkuat Sinergi Antarlembaga

Persoalan masyarakat yang semakin beragam juga membutuhkan kerja sama lintas sektor. Prof. Budi berpandangan bahwa organisasi keagamaan tidak dapat bekerja secara terisolasi ketika berhadapan dengan persoalan pendidikan, sosial, ekonomi, teknologi dan perubahan budaya.

Menurutnya, lembaga pendidikan, pemerintah, dunia usaha, masyarakat sipil dan media memiliki ruang kontribusi masing-masing. Sinergi antarlembaga perlu dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati, memperkuat dan menghindari dominasi salah satu pihak.

Untuk masa khidmat 2026–2031, Prof. Budi memilih tidak menyampaikan janji yang berlebihan. Ia lebih menekankan kesiapan untuk memberikan pengalaman, pemikiran dan tenaga sesuai kapasitas serta amanah yang dipercayakan kepadanya.

“Prinsip saya sederhana: jabatan boleh berganti, tetapi pengabdian harus terus berjalan.”

Empat Tantangan JATMAN Jawa Barat

Dalam pandangannya, terdapat sedikitnya empat agenda yang perlu mendapat perhatian dalam perjalanan organisasi ke depan, yaitu kaderisasi, literasi digital, pemeliharaan tradisi keilmuan dan kemaslahatan sosial.

Kaderisasi diperlukan untuk memastikan tersedianya generasi penerus yang memahami nilai dan tradisi organisasi. Sementara itu, literasi digital semakin penting karena perubahan teknologi telah mengubah cara generasi muda memperoleh pengetahuan, berkomunikasi dan membentuk pandangan.

Pada saat yang sama, modernisasi tidak semestinya menyebabkan organisasi kehilangan akar tradisi keilmuan. Menurut Prof. Budi, nilai-nilai keagamaan justru perlu terus dikontekstualisasikan agar mampu menjawab persoalan kehidupan masyarakat tanpa kehilangan substansi ajarannya.

Orientasi tersebut menempatkan keberlanjutan tradisi dan kemampuan beradaptasi bukan sebagai dua agenda yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan beriringan sepanjang perubahan metode tidak menghilangkan nilai dasar yang menjadi fondasi organisasi.

Pesan untuk Generasi Muda

Prof. Budi juga menekankan pentingnya budaya belajar bagi generasi muda. Menurutnya, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui buku, guru, pengalaman organisasi, interaksi dengan masyarakat dan perjalanan kehidupan.

Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menyaring dan menguji informasi menjadi semakin penting. Literasi digital, menurut perspektif tersebut, perlu berjalan bersama dengan pembentukan karakter.

“Dan yang paling penting, jangan kehilangan akhlak. Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah. Teknologi tanpa nilai juga dapat kehilangan kendali,” tuturnya.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan kapasitas generasi muda tidak hanya berorientasi pada kecakapan intelektual. Karakter, akhlak dan tanggung jawab sosial juga dipandang sebagai bagian integral dari proses kaderisasi.

Menjaga Warisan, Menjawab Kebutuhan Zaman

Untuk masa khidmat JATMAN Jawa Barat 2026–2031, Prof. Budi berharap organisasi mampu menjaga tradisi, memperkuat kaderisasi, memperluas silaturahmi dan kerja sama, sekaligus menghadirkan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat.

Keberlanjutan organisasi, menurutnya, tidak semata-mata ditentukan oleh struktur kepengurusan. Faktor yang lebih menentukan adalah kemampuan menerjemahkan nilai-nilai yang diwariskan para ulama ke dalam konteks kehidupan masyarakat kontemporer.

Dengan pengalaman panjang di PCNU Kota Bekasi, PBNU Pusat dan JATMAN Jawa Barat, amanah baru tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengabdian Prof. Budi yang telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Pengalaman organisasi itu ia tempatkan bukan sebagai daftar jabatan, melainkan sebagai rangkaian proses belajar. Setiap posisi memberikan pengalaman mengenai tanggung jawab, komunikasi, kepemimpinan dan kebutuhan untuk menjaga keberlanjutan organisasi.

Pada akhirnya, ukuran sebuah amanah tidak berhenti pada posisi struktural yang diterima. Ukurannya terletak pada sejauh mana pengalaman, pengetahuan dan tanggung jawab dapat diterjemahkan menjadi kerja, keteladanan serta kemaslahatan bagi masyarakat.

“Jabatan boleh berganti, tetapi pengabdian harus terus berjalan.”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.