Dengan Hikmah Idul Adha Melawan Dampak Negatif “Liquid Modernity”

Dengan Hikmah Idul Adha Melawan Dampak Negatif “Liquid Modernity”
Teropongpost, -Kala takbir berkumandang mengEsakan, memBesarkan, mengAgungkan, meMuji dan menSucikan hanya Allah. Dia lah zat satu-satunya Tuhan yang kami sembah, Dialah Tuhan yang dapat melindungi dan menolong hambaNya.

Hari itu seluruh umat muslim merayakan hari besar Idul Adha.

Pengurbanan mengalahkan ego, mengalahkan keangkuhan, mengalahkan rasa cinta dunia dan memupuk kasih sayang. Berkurban dengan menyembelih hewan kurban kemudian dagingnya dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah dengan membantu makhluk ciptaanNya yang lain bernama manusia.

Read More

Dengan kata lain berkurban bukti Taqwa kepada Allah, ( وَقَى- يَقِى- وِقَايَة ), yang berarti ‘menjaga diri’, ‘menghindari’, dan ‘menjauhi’, yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan.

Berkurban diatas menggambarkan bahwa manusia diperintahkan berlaku menjaga sesuatu dari segala yang dapat memcelakakan diri sendiri dan orang lain.

Hikmah peristiwa Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail mengandung beberapa hikmah, yakni:

Pertama; Ketauhidan, ber Tauhid kepada Allah. Pada saat itu Nabi Ibrahim memerangi pembangkangan raja Namruz, untuk bertauhid kepada Allah dengan tidak mengikuti agama yang di bawa Raja Namruz melainkan tetap berpegang teguh kepada agama Allah, yakni kepada agama asal nabi-nabi sebelumnya,

Walaupun penyiksaan terus dilakukan oleh raja Namruz terhadap Nabi Ibrahim namun karena ketauhidannya kepada Allah maka api panas membara tidak membakar nabi Ibrahim dan atas kekuasaan Allah maka api itu menjadi dingin. Keimanan mengalahkan segala godan dan cobaan

Bagaimana bentuk pembangkangan ketauhidan di zaman atau di era modern saat ini, apabila melihat fenomemena saat ini dimana budaya dan zaman membawa begitu cepat perubahan, modernitas saat ini ibarat sebuah cairan yang sangat panas (liquid modernity).

Fenomena Liquid modernitas ini sebagaimana yang digambarkan dalam buku yang berjudul Liquid Modernity.

Buku oleh Zygmunt Bauman. Gambaran ini ibarat sebuah cairan panas yang mencairkan semua yang dilewatinya, perubahan yang begitu cepat tersebut dapat dimaknai menghancurkan atau melelehkan seluruh tatanan peradaban terlebih dahulu ada, misal saja budaya suatu bangsa dahulu dianggap luhur, kini tergerus atau terlelehkan sehingga menjadi sesuatu hal yang tidak sakral dan biasa.

Berpegang teguh pada sesuatu yang begitu cepat berubah adalah sesuatu sikap dan tindakan yang tidak dapat diandalkan. Terlebih dgunakan sebagai prinsip ketauhidan beriman kepada Allah.

Kedua; Hikmah lain dari napak tilas, Nabi Ibrahim adalah untuk mengajarkan kepada kita agar mau mengorbankan yang paling kita cintai, untuk diberikan di dalam membantu kepada sesama manusia. Sikap ini juga untuk mengikis atau mencegah hasrat buruk yang dapat menghancurkan atau melelehkan kebaikan pada diri kita.

Apabila hal ini kita dapat kita yakini lalu kemudian kita praktekan dalam kehidupan sehari-hari, maka keseimbangan harmony akan terwujud,, keseimbangan inilah yang akan memberikan kehidupan ini menjadi indah, damai dan selaras dengan kesejahteraan seluruh umat.

Oleh : Deny Nuryadin

Wakil Ketua III BAZNAS Tangsel

Baca berita dan informasi menarik lainnya dari teropongpost.id di Google News.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.