Teropongpost, TANGERANG SELATAN – Tradisi Tapak Jalak kembali digelar masyarakat Kampung Cilenggang, Kecamatan Serpong, dalam rangka menyambut 1 Muharam 1448 H. Kegiatan yang menjadi warisan budaya turun-temurun tersebut berlangsung meriah dengan rangkaian Kirab Budaya, pawai obor, serta Istighosah Hasyimiyah yang melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan warga setempat.
Pelaksanaan Tapak Jalak 1 Muharam 1448 H diprakarsai oleh Yayasan Tubagus Muhammad Atif dan dipimpin langsung oleh Tubagus Imamudin. Dengan mengusung tema “Menuju Kampung Budaya, Menjunjung Marwah Meraih Berkah”, kegiatan ini menjadi momentum memperkuat nilai-nilai budaya, keagamaan, dan kebersamaan masyarakat Cilenggang.
Ribuan warga tampak antusias mengikuti Kirab Budaya Tapak Jalak yang semakin semarak dengan penampilan barongsai dan liong dari Bun Hay Bio Pasar Lama serta iringan melodi bambu atau angklung tradisional. Acara tersebut dilepas secara resmi oleh Danramil Serpong Mayor CZI Hernowo melepas pawai obor dan kirab budaya di dampingi Lurah Cilenggang Umar Dhani, S.Sos dan turut dihadiri para ulama, kiai, tokoh masyarakat, serta berbagai elemen warga.
Tubagus Imamudin menjelaskan bahwa Tapak Jalak bukan sekadar kegiatan seremonial menyambut Tahun Baru Islam, melainkan tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Cilenggang sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa bersama untuk keselamatan lingkungan.
Menurutnya, salah satu rangkaian utama dalam tradisi tersebut adalah pelaksanaan doa di empat titik strategis yang berada di akses masuk wilayah Cilenggang, yakni pertigaan dan perempatan jalan. Ritual ini diyakini sebagai ikhtiar spiritual memohon perlindungan kepada Allah SWT agar masyarakat dijauhkan dari berbagai marabahaya.
“Tapak Jalak adalah warisan budaya Kampung Cilenggang yang terus dijaga dari generasi ke generasi. Tradisi ini menjadi bagian dari identitas masyarakat yang dipadukan dengan pawai obor dan kirab budaya pada malam 1 Muharam 1448 Hijriah,” ujar Tubagus Imamudin.
Ia menambahkan, prosesi doa tolak bala diawali dengan kumandang adzan yang dilantunkan oleh anak-anak yang belum baligh. Tradisi tersebut memiliki makna mendalam sebagai simbol kesucian dan harapan agar wilayah Cilenggang senantiasa mendapatkan perlindungan, keberkahan, serta dijauhkan dari berbagai musibah.
Selain menjadi sarana spiritual, kegiatan Tapak Jalak juga bertujuan menanamkan rasa cinta kampung kepada generasi muda. Melalui pelestarian budaya lokal, para pemuda diharapkan memiliki kepedulian terhadap lingkungan, menjaga persatuan warga, dan turut melestarikan tradisi yang telah menjadi bagian dari sejarah kampung mereka.
Kehadiran unsur budaya seperti barongsai, liong, dan angklung tradisional dalam kirab menjadi simbol harmonisasi keberagaman yang tumbuh di tengah masyarakat Cilenggang. Perpaduan unsur budaya dan nilai religius tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dalam membangun kehidupan yang rukun dan damai.
Melalui penyelenggaraan Tapak Jalak setiap tahun, masyarakat berharap tradisi luhur ini tetap terjaga sebagai warisan budaya lokal yang tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana memohon keselamatan, keberkahan, serta kemajuan bagi Kampung Cilenggang, Kecamatan Serpong, dan Kota Tangerang Selatan secara keseluruhan.







