Teropongpost, JAKARTA – Seminar dan talkshow internasional bertajuk “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” menjadi momentum penting dalam penguatan literasi akademik dan pengembangan inovasi berbasis pengalaman empiris. Kegiatan Peluncuran buku yang digelar di Aula G Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Sabtu lalu, menghadirkan ruang dialog ilmiah yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, pembuat kebijakan, serta berbagai pemangku kepentingan dari beragam disiplin ilmu.
Peluncuran buku dan bedah buku tersebut tidak hanya memperkenalkan sebuah karya ilmiah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengalaman hidup dapat diolah menjadi kajian akademik yang memiliki kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Forum ini sekaligus menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai pentingnya integrasi antara penelitian, pengalaman empiris, dan inovasi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.
Muhammad Ja’far Hasibuan menyampaikan kepada awak media, Jumat (31/7/2026), bahwa kegiatan Peluncuran buku yang berlangsung beberapa hari sebelumnya diselenggarakan oleh Mega Press Nusantara dengan partisipasi sekitar 500 peserta secara luring dan lebih dari 1.500 peserta secara daring. Menurutnya, acara tersebut memperoleh dukungan dari Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
“Kegiatan yang diselenggarakan Mega Press Nusantara tersebut diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring. Acara mendapat dukungan resmi dari Perpustakaan Nasional RI, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, serta FKM UI. Pada Launching dan Bedah Buku saya (Muhammad Ja’far Hasibuan), yang seorang berlatarbelakang mahasiswa Semester I Program Studi Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU) dengan NIM 257032012, diresmikan atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo melalui perwakilan pimpinan Polri,” ungkapnya.
Ja’far menilai peluncuran buku tersebut menjadi bukti bahwa kondisi sosial maupun keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar akademik dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” tambah Ja’far.
Dalam buku tersebut, Ja’far mendokumentasikan perjalanan hidupnya sebagai anak yatim yang berasal dari wilayah pedesaan di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Berbekal uang Rp70.000 saat merantau, ia membiayai pendidikan dengan berjualan roti sambil menempuh studi hingga akhirnya mengembangkan inovasi Biofar SS.
Ia menjelaskan bahwa berbagai keterbatasan yang dialami sejak kecil justru menjadi sumber pembelajaran dalam melakukan penelitian lapangan, pengujian laboratorium, hingga uji implementasi di masyarakat. Seluruh proses tersebut kemudian melahirkan inovasi Biofar SS, sementara formulasi teknologinya tetap dirahasiakan sebagai bagian dari pengembangan riset.
Menurut Ja’far, kesempatan memperoleh pendidikan melalui Program Beasiswa Kapolri menjadi faktor penting yang mendorong dirinya terus mengembangkan penelitian terapan yang memiliki manfaat bagi masyarakat.
“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses oleh masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan. Dukungan pimpinan institusi dan para dosen menjadi landasan metodologis dan etis dalam setiap proses penelitian,” ujarnya.
Buku setebal lebih dari 400 halaman tersebut disusun dengan mengintegrasikan pengalaman hidup penulis bersama lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin. Pendekatan tersebut menjadikan buku tidak hanya bernilai inspiratif, tetapi juga memiliki bobot akademik sebagai referensi ilmiah.
Ja’far menjelaskan bahwa kerangka teoritis yang digunakan mencakup berbagai grand theory seperti Teori Modal Sosial, Human Capability Theory, Theory of Planned Behavior, hingga Health Equity Theory dan Social Determinants of Health. Selain itu, buku juga memanfaatkan teori tingkat menengah, seperti Resilience Theory, Growth Mindset, Post-Traumatic Growth, Ecological Systems Theory, serta Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).
Pada aspek manajemen, penyusunan buku memanfaatkan berbagai pendekatan seperti Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS) sehingga proses pengembangan inovasi dipaparkan secara sistematis, terstruktur, dan mudah dipahami dari perspektif akademik.
Acara peluncuran dibuka atas nama Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang diwakili Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, Komjen Pol Drs. R.Z. Panca Putra Simanjuntak, M.Si. Sambutan Kapolri dibacakan oleh Irjen Pol Dr. Andry Wibowo, S.I.K., M.H., M.Si., yang menegaskan bahwa karya Muhammad Ja’far Hasibuan menunjukkan keberhasilan lahir dari integritas, disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial, bukan semata ditentukan oleh kondisi ekonomi.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., menilai buku tersebut memiliki kualitas akademik yang kuat karena berhasil menghubungkan pengalaman empiris dengan teori-teori kontemporer di bidang kesehatan masyarakat, kepemimpinan, dan inovasi. Ia bahkan menyebut karya tersebut telah menjadi bahan diskusi di kalangan profesor serta dinilai memiliki potensi membuka peluang studi doktoral bagi penulis di Harvard University.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, yang melihat perjalanan hidup Ja’far sebagai representasi nyata teori psikologi perkembangan, resiliensi, dan aktualisasi diri. Menurutnya, pengalaman kehilangan orang tua dan perjuangan ekonomi justru membentuk karakter yang tangguh dan produktif.
Sementara itu, Guru Besar FKM Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., menyebut karya tersebut sebagai kebanggaan bagi almamater sekaligus bangsa karena menunjukkan bahwa integritas, kerja keras, dan dedikasi terhadap ilmu pengetahuan mampu menghasilkan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Apresiasi juga diberikan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga RI melalui Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng., yang menetapkan Muhammad Ja’far Hasibuan sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI. Selain itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menetapkan buku tersebut sebagai salah satu koleksi referensi nasional.
Rangkaian kegiatan diakhiri dengan diskusi ilmiah, penyerahan buku kepada sejumlah institusi, serta penandatanganan dokumen referensi. Melalui pendekatan multidisiplin yang memadukan pengalaman empiris dengan teori akademik, buku “Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia” diharapkan menjadi rujukan bagi akademisi, peneliti, praktisi, maupun pembuat kebijakan dalam mengembangkan inovasi berbasis ilmu pengetahuan.
Menutup keterangannya, Muhammad Ja’far Hasibuan menyampaikan rasa syukur atas kesempatan menempuh pendidikan melalui Program Beasiswa Kapolri. Ia mengucapkan terima kasih kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas kepercayaan yang diberikan sehingga dirinya dapat melanjutkan studi di Universitas Sumatera Utara. Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi motivasi untuk terus menghasilkan karya ilmiah dan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.







