PEP Bunyu Field Optimalkan Sumur BN-38, Produksi Migas Melonjak dari 8 Menjadi 733 Barel

PEP Bunyu Field Optimalkan Sumur BN-38, Produksi Migas Melonjak dari 8 Menjadi 733 Barel
Teropongpost, Kalimantan Utara – PEP Bunyu Field menunjukkan bahwa lapangan migas yang telah memasuki fase matang (mature field) masih memiliki ruang untuk meningkatkan produksi. Melalui kegiatan well intervention pada Sumur BN-38, PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field berhasil mendorong produksi awal dari sebelumnya sekitar 8 barel menjadi 733 barel.

Optimalisasi Sumur BN-38 tersebut menjadi salah satu langkah PEP Bunyu Field dalam mempertahankan kinerja produksi dari aset migas eksisting. Intervensi tidak hanya berdampak terhadap produksi minyak, tetapi juga meningkatkan produksi gas hingga 0,52 MMSCFD, jauh di atas target awal sebesar 0,10 MMSCFD.

Capaian PEP Bunyu Field melalui Sumur BN-38 memperlihatkan pentingnya pendekatan berbasis data dalam mengelola lapangan migas matang. Evaluasi kondisi reservoir, pemutakhiran data subsurface, serta pemilihan metode intervensi menjadi faktor yang menentukan dalam mengidentifikasi kembali potensi hidrokarbon yang masih dapat diproduksikan.

Keberhasilan tersebut diperoleh setelah tim teknis melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi sumur dan karakteristik reservoir. Analisis dilakukan untuk memetakan kembali distribusi hidrokarbon sekaligus mengidentifikasi interval yang masih produktif dan bagian sumur yang memiliki risiko menghasilkan air.

Read More
Membaca Ulang Potensi Reservoir

Salah satu tahapan penting dalam pekerjaan tersebut adalah pemutakhiran analisis data subsurface. Data saturasi log dianalisis kembali untuk memperoleh gambaran yang lebih presisi mengenai keberadaan dan distribusi hidrokarbon di dalam reservoir.

Hasil analisis kemudian digunakan sebagai dasar untuk menentukan interval produksi yang masih prospektif. Pendekatan tersebut memungkinkan tim teknis menyusun strategi intervensi secara lebih terukur sehingga peluang memperoleh tambahan minyak dapat dimaksimalkan tanpa mengabaikan pengendalian produksi air.

Senior Manager Bunyu Field, Ruri Heriandi, mengatakan strategi intervensi pada Sumur BN-38 disusun berdasarkan hasil evaluasi teknis terhadap kondisi bawah permukaan. Salah satu tindakan yang dilakukan ialah water shut off dengan mengisolasi serta menyemen interval yang terindikasi menghasilkan air.

Pada saat yang sama, tim melakukan perforasi pada lapisan top sand. Langkah tersebut diarahkan untuk membuka kembali jalur produksi minyak sekaligus membatasi potensi masuknya air ke dalam sumur.

“Alhamdulillah, hasil awalnya menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan dan semoga bisa bertahan dalam waktu yang panjang,” ujar Ruri, dalam keterangan tertulis, Senin (5/10/2026).

Evaluasi lanjutan terhadap Sumur BN-38 juga mengidentifikasi bahwa interval J-72 masih menyimpan kandungan hidrokarbon yang belum diproduksikan secara optimal. Temuan tersebut menjadi dasar bagi tim untuk membuka kembali interval J-72 sebagai bagian dari rangkaian intervensi.

Respons produksi setelah pembukaan kembali interval tersebut menunjukkan hasil positif. Produksi yang sebelumnya berada di kisaran 8 barel meningkat menjadi 733 barel pada tahap awal setelah intervensi.

Optimalisasi Aset Eksisting

Peningkatan produksi BN-38 sekaligus memberikan gambaran mengenai strategi pengelolaan lapangan migas yang telah memasuki fase matang. Tambahan produksi tidak selalu harus diperoleh melalui pengembangan lapangan baru, karena aset yang telah beroperasi masih dapat dioptimalkan melalui pemahaman reservoir yang lebih akurat dan intervensi berbasis data.

Strategi tersebut menjadi semakin relevan ketika lapangan menghadapi penurunan produksi secara alamiah akibat usia operasi. Karena itu, kemampuan mengidentifikasi kembali interval produktif, mengendalikan produksi air, serta menentukan metode intervensi yang tepat merupakan bagian penting dari upaya memperpanjang masa produktif sumur.

General Manager Zona 10, Darmapala, mengatakan perusahaan terus mendorong penerapan inovasi dan teknologi dalam pemeliharaan, perbaikan, serta reaktivasi sumur-sumur migas. Menurut dia, pendekatan tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki tingkat perolehan hidrokarbon (recovery rate).

“Keberhasilan well intervention di Sumur BN-38 menunjukkan bahwa optimalisasi aset eksisting dapat memberikan tambahan produksi yang berarti. Upaya seperti ini akan terus kami dorong untuk mengoptimalkan potensi aset yang dimiliki Pertamina,” kata Darmapala.

Pernyataan tersebut menempatkan well intervention bukan sekadar sebagai tindakan teknis terhadap sebuah sumur, melainkan bagian dari strategi pengelolaan aset jangka panjang. Dengan dukungan teknologi dan analisis yang memadai, sumur yang mengalami penurunan produksi tetap dapat dievaluasi untuk menemukan peluang pemulihan produksi.

Menjaga Kontribusi Produksi Migas

Lapangan Bunyu merupakan salah satu aset migas yang beroperasi di Kalimantan Utara. Optimalisasi produksi dari sumur eksisting menjadi relevan dalam konteks kebutuhan menjaga kesinambungan pasokan energi sekaligus mempertahankan kontribusi produksi migas dalam negeri.

PEP Bunyu Field dalam menjalankan kegiatan operasionalnya mengedepankan keselamatan kerja, efisiensi, keandalan operasi, serta kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan. Prinsip tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan lapangan, termasuk dalam pelaksanaan pekerjaan intervensi sumur.

PEP Bunyu Field merupakan bagian dari Zona 10 Subholding Upstream Regional 3 Kalimantan yang berada di bawah PT Pertamina Hulu Indonesia. Referensi Umum

Dalam kegiatan hulu migas di Kalimantan Utara, perusahaan juga bekerja sama dengan SKK Migas serta menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Kerangka tersebut menempatkan keberlanjutan operasi, tata kelola, aspek sosial, keselamatan, dan lingkungan sebagai bagian dari pengelolaan kegiatan usaha.

Capaian Sumur BN-38 memperlihatkan bahwa lapangan migas matang tidak serta-merta kehilangan nilai produksinya. Ketika data bawah permukaan dianalisis kembali secara komprehensif, masih terdapat kemungkinan untuk menemukan interval hidrokarbon yang dapat dikembangkan melalui intervensi yang tepat.

Kenaikan produksi dari sekitar 8 barel menjadi 733 barel pada tahap awal setelah intervensi menjadi indikator bahwa kombinasi antara teknologi, analisis data reservoir, dan ketepatan strategi teknis dapat membuka kembali potensi aset yang sebelumnya belum termanfaatkan secara maksimal.

Dalam perspektif ketahanan energi, optimalisasi semacam ini memiliki arti strategis karena peningkatan produksi dari aset yang sudah tersedia dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga keberlanjutan produksi nasional. Pengalaman Sumur BN-38 di Lapangan Bunyu menunjukkan bahwa pengelolaan aset matang membutuhkan evaluasi berkelanjutan, inovasi teknologi, serta keputusan teknis yang didasarkan pada data.

Dengan demikian, keberhasilan well intervention di Sumur BN-38 tidak hanya mencerminkan capaian produksi pada satu sumur, tetapi juga menggambarkan pendekatan yang dapat diterapkan dalam mempertahankan produktivitas lapangan migas matang. Dari Bunyu, Kalimantan Utara, optimalisasi aset eksisting kembali menunjukkan perannya dalam menjaga kesinambungan produksi dan mendukung ketahanan energi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.