Menjawab Tantangan Global, MA IPPNU Perkuat Jejaring Pengabdian Perempuan

Menjawab Tantangan Global, MA IPPNU Perkuat Jejaring Pengabdian Perempuan
Teropongpost, Jakarta – Majelis Alumni Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (MA IPPNU) menegaskan komitmennya dalam memperluas ruang pengabdian dan memperkuat kolaborasi perempuan Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan global yang terus berkembang. Komitmen tersebut mengemuka dalam Pengukuhan Pengurus Pusat MA IPPNU periode 2025–2030 yang digelar di Jakarta.

Melalui momentum pengukuhan tersebut, MA IPPNU menempatkan penguatan jejaring alumni sebagai salah satu strategi utama dalam menjawab tantangan global, mulai dari persoalan ketimpangan sosial, perubahan iklim, transformasi digital, hingga isu perlindungan perempuan dan anak. Organisasi ini menilai sinergi lintas sektor menjadi kunci untuk memperluas manfaat pengabdian kepada masyarakat.

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Nannie Hadi Tjahjanto, menilai peran organisasi perempuan semakin penting dalam menghadapi berbagai tantangan global. Menurutnya, kolaborasi dan kepemimpinan perempuan dibutuhkan untuk menghadirkan solusi yang berdampak nyata bagi masyarakat serta mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.

“Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak perempuan yang mampu membangun kerja sama dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan. Tantangan yang dihadapi tidak bisa diselesaikan secara sendiri-sendiri,” ujarnya.

Read More

Semangat tersebut sejalan dengan visi MA IPPNU yang mendorong perempuan menjadi motor perubahan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, hingga kemanusiaan.

Ketua Umum MA IPPNU, Prof. Dr. Siti Nur Azizah, S.H., M.Hum., mengatakan bahwa perempuan saat ini menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Menurutnya, perkembangan teknologi, isu kesehatan mental, ketahanan keluarga, perubahan iklim, dan kesenjangan ekonomi menjadi persoalan yang memerlukan perhatian serius.

Ia menegaskan bahwa perempuan tidak cukup hanya menjadi pihak yang mengikuti perubahan, melainkan harus terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan dan pembangunan bangsa.

“Perempuan harus hadir sebagai bagian dari solusi. Peran perempuan sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi, perlindungan lingkungan, penguatan keluarga, hingga pembangunan peradaban yang berkelanjutan,” kata Siti Nur Azizah.

Lebih lanjut, ia menyebut jejaring alumni yang dimiliki MA IPPNU merupakan modal sosial yang besar. Jika potensi tersebut dikelola secara kolektif, maka akan lahir berbagai program yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi perempuan dalam pembangunan nasional.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, MA IPPNU juga menggelar santunan kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian terhadap kelompok rentan. Kegiatan itu menjadi simbol bahwa pembangunan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Di tengah meningkatnya berbagai persoalan sosial yang menyasar perempuan dan anak, organisasi perempuan dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk terus memperkuat gerakan kemanusiaan dan solidaritas sosial.

Dewan Pendiri MA IPPNU, Hj. Safira Machrusah, menegaskan bahwa proses kaderisasi yang telah dibangun selama puluhan tahun harus mampu melahirkan perempuan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan.

Menurutnya, kaderisasi tidak sekadar mencetak pemimpin organisasi, melainkan membangun karakter perempuan yang mampu menjadi agen perubahan dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Kaderisasi harus menghasilkan perempuan yang peduli, berintegritas, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga oleh seluruh alumni IPPNU,” ujarnya.

Sementara itu, Sarasehan Nasional yang menjadi bagian dari agenda pengukuhan menghadirkan diskusi mengenai masa depan gerakan perempuan Indonesia dalam menghadapi perubahan dunia yang semakin dinamis. Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Siti Maryamah Kadriyah atau Mery.

Dalam pengantarnya, Mery menegaskan bahwa perempuan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengambil peran strategis dalam berbagai sektor pembangunan. Ia menilai kolaborasi lintas generasi, profesi, dan organisasi menjadi faktor penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Sarasehan tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi, di antaranya penguatan kapasitas perempuan, pemberdayaan ekonomi keluarga, perlindungan anak, peningkatan literasi digital, serta perluasan partisipasi perempuan dalam ruang-ruang pengambilan kebijakan.

Menariknya, acara ditutup dengan penampilan fashion show karya Salwa Ratu Dewi Tanara, desainer muda berkebutuhan khusus yang merupakan putri Ketua Umum MA IPPNU. Penampilannya mendapat apresiasi karena menjadi simbol semangat inklusivitas dan kesetaraan dalam pembangunan.

Pesan yang dihadirkan melalui penampilan tersebut sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang menempatkan seluruh kelompok masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pembangunan tanpa diskriminasi.

Melalui pengukuhan kepengurusan baru ini, MA IPPNU menegaskan tekad untuk terus memperkuat jejaring, memperluas pengabdian, serta menghadirkan kontribusi nyata dalam menjawab berbagai tantangan global melalui kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan perempuan.

MA IPPNU meyakini bahwa ketika perempuan memperoleh ruang untuk berkembang dan berdaya, maka keluarga akan semakin kuat, masyarakat menjadi lebih tangguh, dan Indonesia akan lebih siap menghadapi dinamika masa depan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.