Teropongpost, JAKARTA – Harga batu bara mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami tekanan selama dua sesi perdagangan sebelumnya. Pergerakan positif tersebut ditopang oleh penguatan harga minyak dunia serta indikasi semakin ketatnya pasokan batu bara di China. Kondisi tersebut memberikan sentimen baru bagi pasar komoditas energi setelah sebelumnya harga mengalami koreksi cukup dalam.
Mengacu pada data perdagangan Refinitiv, harga batu bara pada Kamis (6/8/2026) berakhir di level US$129,75 per ton atau meningkat sekitar 0,35% dibandingkan penutupan sesi sebelumnya. Kenaikan tersebut relatif terbatas, tetapi menjadi sinyal penting karena mampu menghentikan tekanan jual yang berlangsung dalam dua hari perdagangan sebelumnya dan telah menekan harga hingga 3,68%.
Pergerakan harga batu bara China juga memperoleh dorongan dari kenaikan harga minyak dunia. Pada perdagangan yang sama, minyak Brent tercatat melonjak 3,83% menjadi US$82,49 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,75% ke level US$77,29 per barel. Penguatan kedua indikator minyak tersebut turut memperbaiki sentimen terhadap komoditas energi lain, termasuk batu bara.
Di China, faktor pasokan domestik menjadi salah satu perhatian utama pasar. Persediaan batu bara termal di sejumlah pelabuhan utama di wilayah utara negara tersebut dilaporkan terus menurun seiring meningkatnya konsumsi listrik selama periode musim panas. Temperatur yang tinggi mendorong penggunaan pendingin ruangan dan meningkatkan kebutuhan listrik, sehingga konsumsi bahan bakar pembangkit ikut mengalami peningkatan.
Penurunan stok di pelabuhan membuat ketersediaan beberapa jenis batu bara di pasar domestik China menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi harga untuk bergerak lebih tinggi sekaligus memperbaiki sentimen perdagangan batu bara di kawasan Asia.
Namun, potensi kenaikan harga masih menghadapi sejumlah pembatas. Perusahaan utilitas pembangkit listrik di China pada umumnya masih memiliki persediaan yang memadai untuk kebutuhan jangka pendek. Selain itu, sebagian besar perusahaan tetap mengandalkan kontrak pasokan jangka panjang sehingga kebutuhan pembelian melalui pasar spot belum mengalami peningkatan signifikan.
Tekanan pasokan juga terlihat di tingkat produsen. Harga batu bara pada tingkat mulut tambang atau mine-mouth terus menunjukkan peningkatan karena stok di kawasan pertambangan relatif rendah. Kondisi pasokan yang terbatas membuat harga produksi tetap berada pada tingkat tinggi dan menjadi salah satu faktor yang mendukung harga batu bara di pasar.
Kenaikan harga domestik China kemudian meningkatkan daya saing batu bara dari pasar internasional. Batu bara asal Indonesia dan Australia kembali memiliki posisi yang relatif kompetitif bagi sejumlah pembeli di Asia ketika harga batu bara domestik China bergerak naik.
Meskipun demikian, peningkatan daya saing tersebut belum secara otomatis menghasilkan lonjakan transaksi impor. Aktivitas pembelian masih cenderung terkendali karena permintaan dari pengguna akhir belum menunjukkan peningkatan yang cukup kuat. Pelaku pasar masih menunggu perkembangan konsumsi listrik dan kebutuhan pembangkit sebelum meningkatkan volume pembelian secara agresif.
Berbeda dengan China, perkembangan persediaan batu bara di India menunjukkan kondisi yang relatif lebih longgar. Pemerintah India menyatakan ketersediaan batu bara domestik masih berada pada tingkat aman. Hingga 4 Agustus 2026, persediaan pada pembangkit listrik tenaga termal di negara tersebut tercatat sekitar 34,55 juta ton.
Kementerian Batu Bara India juga mencatat sekitar 113 juta ton batu bara masih berada di kawasan tambang atau pithead maupun dalam proses distribusi. Dengan memperhitungkan kedua komponen tersebut, total persediaan mencapai sekitar 148 juta ton. Jumlah itu diperkirakan cukup untuk mendukung kebutuhan pembangkit listrik selama kurang lebih 62 hari.
Perbedaan kondisi antara China dan India memperlihatkan bahwa arah pasar batu bara global masih sangat dipengaruhi faktor regional. Penurunan stok di China dapat memberikan dukungan terhadap harga dalam jangka pendek, sedangkan persediaan yang relatif besar di India berpotensi membatasi ruang kenaikan apabila pertumbuhan permintaan global belum cukup kuat.
Bagi Indonesia, situasi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi industri batu bara nasional. Sebagai salah satu eksportir utama batu bara dunia, Indonesia berpotensi mempertahankan daya saing di pasar Asia ketika harga domestik China meningkat dan pembeli mulai mempertimbangkan sumber pasokan alternatif.
Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada sejumlah variabel eksternal. Pelaku industri perlu memperhatikan perkembangan permintaan listrik di negara-negara konsumen, kebijakan perdagangan dan impor masing-masing negara tujuan, kondisi pasokan domestik China, serta pergerakan harga minyak dunia yang dapat memengaruhi sentimen komoditas energi.
Dengan demikian, pemulihan harga batu bara pada perdagangan Kamis belum dapat sepenuhnya diartikan sebagai perubahan tren jangka panjang. Kenaikan tersebut lebih mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi penguatan minyak dunia dan mengetatnya pasokan di China. Perkembangan permintaan energi global dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah pemulihan harga batu bara dapat berlanjut atau kembali menghadapi tekanan.







