Teropongpost, Jakarta — Gagasan membangun Bank Pakan Ternak berbasis ekonomi sirkular semakin relevan di tengah tekanan biaya produksi peternak domba dan kambing serta tingginya timbulan sampah makanan. Harga konsentrat pakan ternak yang disebut mencapai Rp8.500 per kilogram membuat biaya pakan menjadi salah satu komponen utama yang menentukan keberlanjutan usaha peternakan rakyat.
Konsep Bank Pakan Ternak menawarkan pendekatan yang berbeda dengan mempertemukan dua persoalan tersebut, yakni mahalnya bahan pakan dan melimpahnya sampah organik. Melalui prinsip ekonomi sirkular, bahan yang sebelumnya diperlakukan sebagai limbah dapat diolah menjadi sumber bahan baku pakan dengan tetap memperhatikan standar keamanan dan kualitas.
Model Bank Pakan Ternak berbasis ekonomi sirkular pada dasarnya menempatkan sampah makanan, limbah industri pangan, serta hasil samping agroindustri sebagai bagian dari rantai produksi baru. Pendekatan tersebut diarahkan bukan hanya untuk menekan biaya pakan, tetapi juga mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Data yang dicantumkan dalam naskah menunjukkan bahwa potensi timbulan sampah makanan di Indonesia mencapai 23,5 juta ton per tahun. Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup disebut mencatat 41,4 persen sampah di TPA merupakan sampah organik sisa makanan. Kondisi tersebut memperlihatkan adanya peluang untuk membangun hubungan yang lebih produktif antara sektor pengelolaan sampah dan peternakan.
Tiga Sumber Bahan Baku
Salah satu sumber potensial adalah industrial food waste, yakni produk industri makanan dan minuman yang ditarik dari peredaran karena mendekati masa kedaluwarsa. Dalam naskah sumber disebutkan bahwa produk seperti biskuit, sereal, mi instan, susu bubuk, dan minuman sachet masih memiliki kandungan nutrisi, meskipun secara hukum produk yang mendekati kedaluwarsa harus ditangani agar tidak kembali beredar untuk konsumsi manusia.
Sumber kedua berasal dari sampah organik perkotaan, seperti sisa makanan restoran, hotel, kantin, pasar, rumah tangga, serta sumber lainnya. Bahan ini memiliki kadar air tinggi dan mudah mengalami pembusukan sehingga membutuhkan sistem pengolahan yang cepat dan terkontrol. Salah satu teknologi yang disebut dalam naskah adalah pemanfaatan magot Black Soldier Fly (BSF).
Dalam konsep tersebut, magot dapat diolah lebih lanjut menjadi tepung setelah melalui proses pengeringan. Naskah menyebut tepung magot memiliki kandungan protein 40–45 persen dan lemak sekitar 30 persen. Bahan tersebut kemudian diposisikan sebagai salah satu sumber protein dalam formulasi pakan ternak.
Sumber ketiga adalah hasil samping industri pangan, seperti ampas tahu, ampas tempe, ampas singkong, ampas bir, dedak, dan bekatul. Tantangan utama bahan-bahan tersebut adalah kandungan air yang tinggi sehingga relatif mudah mengalami kerusakan. Fermentasi atau silase disebut sebagai salah satu pendekatan untuk memperpanjang masa penyimpanan sekaligus meningkatkan pemanfaatannya sebagai bahan pakan.
Ketiga kelompok bahan tersebut memiliki karakteristik nutrisi yang berbeda. Industrial food waste cenderung kaya energi, bahan berserat dapat melengkapi kebutuhan serat, sedangkan magot dapat menjadi sumber protein. Karena itu, formulasi yang tepat menjadi faktor penting agar bahan-bahan tersebut dapat menghasilkan pakan yang memiliki komposisi nutrisi lebih seimbang.
Koperasi Menjadi Penghubung Rantai Pasok
Persoalan skala usaha menjadi alasan lain mengapa model Bank Pakan Ternak perlu didukung kelembagaan koperasi. Peternak dengan jumlah ternak terbatas akan menghadapi kendala biaya apabila harus mengambil bahan baku dalam jumlah besar langsung dari industri atau sumber sampah makanan.
Dalam model koperasi, bahan baku dapat dikumpulkan secara kolektif dari berbagai sumber, kemudian diproses menjadi pakan dan disalurkan kembali kepada anggota. Dengan demikian, koperasi berfungsi sebagai penghubung antara sumber bahan baku, proses produksi, dan kebutuhan pakan peternak.
Model tersebut berpotensi menghasilkan efisiensi logistik. Pengumpulan bahan baku dalam volume besar melalui satu kendaraan, misalnya, dapat mengurangi biaya dibandingkan apabila setiap peternak mengambil bahan secara individual. Sistem pengambilan terjadwal juga memungkinkan pasokan bahan baku dikelola lebih teratur.
Efisiensi berikutnya berkaitan dengan peralatan produksi. Naskah memperkirakan kombinasi mesin chopper, mixer, dan drum fermentasi dapat digunakan secara bersama oleh puluhan anggota koperasi. Dengan penggunaan bersama, investasi peralatan tidak perlu ditanggung setiap peternak secara individual.
Aspek mutu juga tidak dapat diabaikan. Koperasi dapat menugaskan tenaga yang memahami nutrisi ternak untuk menyusun formulasi, melakukan pencatatan produksi, serta mengirimkan sampel pakan ke laboratorium untuk pengujian. Pendekatan tersebut diperlukan agar produk yang dihasilkan benar-benar memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, bukan sekadar memindahkan sampah menjadi bahan fermentasi.
Potensi Penghematan Biaya
Naskah sumber memberikan ilustrasi bahwa untuk 100 ekor domba atau kambing, kebutuhan pakan dapat mencapai sekitar 300 kilogram per hari. Dengan asumsi harga pokok produksi Rp2.000 per kilogram, biaya pakan bulanan diperkirakan Rp15,6 juta. Sebagai pembanding, apabila konsentrat dibeli dengan harga Rp7.000 per kilogram, kebutuhan biaya bulanan mencapai sekitar Rp54,6 juta.
Perbedaan tersebut menunjukkan potensi penghematan yang besar apabila sistem produksi pakan berbasis bahan lokal dapat berjalan efisien. Namun, angka tersebut merupakan simulasi yang bergantung pada komposisi bahan, kadar bahan kering, biaya tenaga kerja, transportasi, pengolahan, pengujian mutu, dan biaya operasional lainnya.
Karena itu, pengembangan Bank Pakan Ternak perlu ditempatkan sebagai model bisnis sekaligus kelembagaan yang membutuhkan perhitungan biaya secara realistis. Efisiensi tidak hanya ditentukan oleh murahnya bahan baku, tetapi juga oleh kemampuan koperasi menjaga kontinuitas pasokan dan menghasilkan pakan dengan kualitas konsisten.
Manfaat konsep ini tidak berhenti pada sektor peternakan. Pengalihan sebagian bahan organik dari TPA berpotensi mengurangi beban pengelolaan sampah dan emisi yang berkaitan dengan pembusukan sampah organik. Pada saat yang sama, pemanfaatan hasil samping industri pangan dapat menciptakan nilai ekonomi baru dari material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Bagi peternak rakyat, penurunan biaya pakan dapat memperbaiki struktur biaya produksi. Jika efisiensi benar-benar tercapai tanpa mengorbankan kualitas nutrisi dan keamanan pakan, peternak memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing usaha.
Konsep tersebut juga dikaitkan dengan ketahanan pangan melalui peningkatan populasi domba dan kambing lokal. Ketersediaan pakan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan dapat menjadi salah satu faktor pendukung pengembangan usaha ternak, termasuk untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban dan akikah.
Tiga Tantangan Utama
Agar Bank Pakan Ternak berbasis ekonomi sirkular tidak berhenti sebagai gagasan, terdapat sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. Pertama adalah aspek regulasi dan logistik. Pemerintah daerah perlu mempertemukan koperasi peternak dengan pelaku industri makanan, hotel, restoran, pasar, dan sumber bahan baku lainnya melalui skema kemitraan yang jelas.
Kedua adalah teknologi dan pendampingan. Perguruan tinggi serta lembaga pendidikan peternakan dapat berperan dalam menyusun formulasi pakan berdasarkan karakteristik bahan baku lokal. Pengujian proksimat juga menjadi bagian penting untuk memastikan kandungan nutrisi pakan dapat diketahui secara objektif.
Ketiga adalah pembiayaan. Naskah memperkirakan kebutuhan investasi awal peralatan berada pada kisaran Rp33 juta hingga Rp40 juta. Nilai tersebut relatif besar bagi koperasi yang baru berdiri sehingga diperlukan dukungan pembiayaan, termasuk melalui pemerintah, BAZNAS, atau program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Pada tahap awal, dukungan tersebut dapat diarahkan untuk membangun Bank Pakan Ternak percontohan. Setelah model terbukti berjalan secara teknis dan ekonomi, koperasi dapat mengembangkan kapasitasnya secara bertahap melalui keuntungan usaha.
Pada akhirnya, Bank Pakan Ternak menawarkan perubahan cara pandang dari pola produksi linear menuju sistem ekonomi sirkular. Bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat menjadi input bagi sistem lain apabila tersedia teknologi, kelembagaan, pengawasan mutu, dan regulasi yang memadai.
Tantangan terbesar bukan semata-mata ketersediaan bahan baku, melainkan kemampuan membangun ekosistem yang menghubungkan peternak, koperasi, industri pangan, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Dengan koordinasi tersebut, gagasan mengubah sampah menjadi pakan dapat berkembang dari konsep menjadi model ekonomi yang memberikan manfaat bagi peternakan sekaligus lingkungan.
Oleh: Agus Santoso
Mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Peternak Domba Kambing







