Teropongpost, Jakarta — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkap adanya pihak yang menghambat proyek Dimethyl Ether (DME), sebuah program strategis dalam hilirisasi energi nasional untuk mengurangi ketergantungan impor LPG.
Proyek DME menjadi fokus pemerintah karena tingginya impor LPG yang terus membebani neraca energi nasional. Melalui hilirisasi batu bara menjadi DME, pemerintah berharap mampu menciptakan kemandirian energi berbasis sumber daya dalam negeri.
Namun, dalam pelaksanaannya, proyek DME menghadapi berbagai kendala, termasuk faktor investasi dan dinamika kepentingan yang diduga menjadi penghambat percepatan realisasi proyek strategis tersebut.
Bahlil menjelaskan bahwa salah satu alasan utama pengembangan DME adalah perbedaan karakteristik gas yang dimiliki Indonesia dibandingkan dengan kebutuhan LPG di dalam negeri.
Ia menyebutkan bahwa cadangan gas Indonesia didominasi oleh gas metana dan etana (C1 dan C2), sementara LPG yang digunakan masyarakat berasal dari propana dan butana (C3 dan C4) yang jumlahnya terbatas.
“Secara cadangan kita kaya, tapi jenisnya berbeda. LPG itu C3 dan C4, sementara gas kita lebih banyak C1 dan C2. Itu yang membuat kita tetap harus impor,” ujar Bahlil.
Sebagai solusi, pemerintah mendorong proyek hilirisasi batu bara berkalori rendah menjadi DME yang dikembangkan oleh PT Bukit Asam Tbk di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.
Produk DME diharapkan mampu menggantikan LPG untuk kebutuhan rumah tangga, sekaligus meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam dalam negeri.
Meski telah dimulai sejak era pemerintahan Joko Widodo, proyek ini masih belum mencapai tahap operasional akibat berbagai kendala yang muncul di tengah jalan.
Bahlil mengakui adanya perubahan dukungan dari mitra strategis serta persoalan investasi yang turut memperlambat progres pembangunan proyek tersebut.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memberi ruang bagi pihak-pihak yang mencoba menghambat proyek strategis nasional, terutama yang berkaitan dengan kemandirian energi.
Dengan kebutuhan energi yang terus meningkat dan beban impor LPG yang masih tinggi, keberhasilan proyek DME dinilai menjadi kunci penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional di masa depan.







