Terpongpost, Balikpapan – Pengamanan fasilitas minyak dan gas bumi (migas) lepas pantai menjadi salah satu faktor strategis dalam menjaga kesinambungan produksi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. Penguatan koordinasi antara pengelola aset, regulator, dan aparat keamanan dinilai penting untuk memastikan kegiatan operasi tetap berlangsung aman, andal, dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kunjungan Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Balikpapan Letkol Laut (P) Rudhiro Pratomo S.A.P. ke fasilitas operasi migas lepas pantai Bekapai milik PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), sekitar 60 kilometer sebelah utara Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, pada akhir Juli 2026.
Kunjungan itu sekaligus memperkuat sinergi antara PHM, SKK Migas, dan TNI Angkatan Laut dalam menjaga fasilitas yang berstatus Objek Vital Nasional (Obvitnas). Koordinasi lintas lembaga tersebut diarahkan untuk memastikan kegiatan hulu migas di wilayah perairan tetap terlindungi dari potensi gangguan yang dapat memengaruhi keberlangsungan produksi.
General Manager PHM Setyo Sapto Edi menerima langsung kunjungan Danlanal Balikpapan beserta rombongan. Dalam agenda tersebut turut hadir Kepala SKK Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi (Kalsul) Haryanto Syafri bersama jajaran manajemen SKK Migas Kalsul.
Setyo menjelaskan bahwa keberhasilan operasi hulu migas tidak semata-mata bergantung pada teknologi dan kondisi fasilitas produksi. Faktor keselamatan, keamanan, kesiapan operasional, serta hubungan yang kuat dengan regulator dan aparat negara juga menjadi bagian integral dalam menjaga keberlanjutan produksi.
“Sebagai pengelola aset hulu migas yang merupakan Obvitnas, PHM membutuhkan sinergi yang kuat dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk SKK Migas dan TNI Angkatan Laut, agar operasi dapat berjalan secara selamat, andal, dan berkelanjutan,” ujar Setyo dalam keterangan tertulis, Senin (10/8/2026).
Menurutnya, kerja sama tersebut memiliki dimensi strategis karena fasilitas produksi migas merupakan bagian dari infrastruktur yang menopang kebutuhan energi. Perlindungan terhadap aset sekaligus diperlukan untuk menjaga agar aktivitas produksi dan distribusi energi tidak mengalami gangguan.
Bekapai Beroperasi di Tengah Tantangan Mature Field
Bekapai merupakan salah satu fasilitas produksi lepas pantai yang berada dalam Wilayah Kerja (WK) Mahakam. Sebagai bagian dari lapangan yang telah beroperasi dalam waktu panjang, pengelolaannya membutuhkan pendekatan yang mencakup keselamatan kerja, keandalan fasilitas, pemeliharaan aset, efisiensi operasional, serta pengamanan kawasan.
WK Mahakam sendiri telah memasuki fase mature field. Kondisi tersebut membuat optimalisasi aset dan inovasi operasional menjadi semakin penting untuk mempertahankan produktivitas lapangan. PHM menjalankan berbagai upaya pemeliharaan dan penguatan sistem operasi dengan tetap menempatkan keselamatan serta keamanan sebagai prioritas.
Kepala SKK Migas Kalsul Haryanto Syafri memberikan apresiasi terhadap upaya PHM dalam mempertahankan keberlangsungan kegiatan operasi dan kontribusinya terhadap produksi migas nasional. Menurutnya, tantangan pengelolaan lapangan yang telah berproduksi selama puluhan tahun membutuhkan konsistensi dalam aspek keselamatan dan keamanan.
“Sinergi yang erat antara SKK Migas, PHM, dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk aparat keamanan, menjadi faktor penting untuk memastikan target produksi migas nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” katanya.
TNI AL Perkuat Koordinasi Pengamanan
Dari sisi keamanan, Danlanal Balikpapan menyatakan kesiapan TNI AL untuk terus membangun koordinasi dengan PHM dan SKK Migas dalam mendukung pengamanan fasilitas migas yang berada di wilayah perairan.
Rudhiro menilai perlindungan terhadap Obvitnas merupakan tanggung jawab yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Koordinasi, pemantauan, patroli keamanan, serta langkah pencegahan menjadi bagian dari upaya mengantisipasi berbagai potensi gangguan terhadap fasilitas strategis.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami berharap operasional PHM dapat terus berjalan dengan aman sehingga mampu mendukung ketahanan energi untuk Indonesia,” tegasnya.
Kegiatan kunjungan diawali dengan safety induction, kemudian dilanjutkan pemaparan mengenai kondisi operasi Bekapai, sistem keselamatan, serta mekanisme pengamanan fasilitas produksi migas lepas pantai. Rombongan juga memperoleh penjelasan mengenai aktivitas operasi PHM di WK Mahakam.
Selain fasilitas produksi, pembahasan mencakup pengelolaan jaringan pipa migas yang menjadi bagian penting dalam infrastruktur penyaluran energi. Keandalan jaringan tersebut turut menentukan kelancaran proses produksi hingga distribusi hasil operasi hulu migas.
Kolaborasi PHM, SKK Migas, dan TNI AL menunjukkan bahwa keberlanjutan industri migas membutuhkan pendekatan multidimensi. Kemampuan teknis dan keandalan fasilitas perlu berjalan beriringan dengan sistem keselamatan, keamanan, pengawasan regulator, serta dukungan aparat negara.
Bagi kepentingan nasional, pengamanan fasilitas migas lepas pantai memiliki nilai strategis karena gangguan terhadap aset produksi dapat berimplikasi terhadap kesinambungan operasi dan rantai pasok energi. Karena itu, penguatan koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dari mitigasi risiko pada sektor hulu migas.
PHM merupakan anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) di Zona 8 yang mengelola operasi dan bisnis hulu migas di WK Mahakam, Kalimantan Timur. Sebagai KKKS bagi pemerintah Indonesia yang diwakili SKK Migas, PHM menjalankan kegiatan operasional dengan mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Penguatan teknologi, keselamatan kerja, inovasi, pemeliharaan aset, serta sinergi lintas lembaga menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan produksi migas. Upaya tersebut sekaligus memperkuat peran Kalimantan Timur dalam menopang kebutuhan energi dan ketahanan energi Indonesia di tengah dinamika sektor migas nasional.






