Menaker Yassierli Tekankan Human Skills untuk Perkuat Kesiapan Mahasiswa Vokasi Hadapi Dunia Kerja

Menaker Yassierli Tekankan Human Skills untuk Perkuat Kesiapan Mahasiswa Vokasi Hadapi Dunia Kerja
Teropongpost, Bekasi — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menekankan pentingnya human skills atau keterampilan interpersonal bagi mahasiswa sebagai bagian dari persiapan menghadapi dunia kerja. Menurutnya, penguasaan keahlian teknis perlu dilengkapi kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi, dan membangun relasi profesional.

Pesan mengenai human skills tersebut disampaikan Yassierli saat memberikan Kuliah Umum di Politeknik Mitra Industri, Bekasi, Rabu (16/9/2026). Ia menilai kemampuan interpersonal perlu dibentuk sejak mahasiswa menjalani proses pendidikan, sehingga lulusan vokasi tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu bekerja secara efektif dalam lingkungan profesional.

Bagi mahasiswa pendidikan vokasi, human skills menjadi kompetensi yang semakin relevan karena kebutuhan dunia kerja tidak berhenti pada penguasaan teknologi atau keterampilan tertentu. Yassierli menyebut komunikasi, kerja sama tim, negosiasi, presentasi, dan kemampuan beradaptasi sebagai sejumlah kapasitas yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan.

Kompetensi Teknis Perlu Berjalan Bersama Human Skills

Yassierli menggambarkan kebutuhan industri yang menghendaki lulusan dengan kombinasi kemampuan teknis dan interpersonal. Seseorang dapat memiliki penguasaan teknis yang tinggi, tetapi efektivitasnya dalam lingkungan kerja tetap dipengaruhi kemampuan berinteraksi serta berkolaborasi dengan anggota tim.

Read More

Ia memberikan ilustrasi mengenai seseorang yang sangat menguasai coding, tetapi menghadapi kesulitan ketika harus bekerja bersama orang lain. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kompetensi teknis tidak selalu berdiri sendiri dalam menentukan kemampuan seseorang menjalankan tugas profesional.

“Yang kita inginkan bukan orang yang misalnya hanya menguasai coding saja. Pagi, siang, sore, malam, coding. Tetapi dia tidak bisa bergaul dalam tim kerjanya, tidak berinteraksi dengan lainnya,” ujar Yassierli.

Karena itu, menurut Yassierli, pembentukan kompetensi mahasiswa perlu mencakup pengembangan human skills secara terintegrasi. Kemampuan teknis tetap menjadi fondasi pendidikan vokasi, tetapi penerapannya perlu didukung keterampilan berkomunikasi dan membangun hubungan kerja yang konstruktif.

Keterampilan Interpersonal Harus Dilatih

Menaker menjelaskan bahwa keterampilan interpersonal tidak terbentuk secara otomatis. Mahasiswa membutuhkan pengalaman pembelajaran yang memberikan kesempatan untuk berinteraksi, menyampaikan gagasan, menyelesaikan persoalan bersama, serta beradaptasi dengan individu yang memiliki karakter dan cara pandang berbeda.

Ruang pembelajaran tersebut dapat dibangun melalui presentasi, kerja kelompok, kegiatan organisasi, proyek bersama, maupun pengalaman langsung yang mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan profesional. Proses itu memungkinkan mahasiswa menguji kompetensi sekaligus memahami dinamika kerja yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pembelajaran teoritis.

Dengan pendekatan tersebut, pendidikan vokasi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang memahami teori dan mampu mengoperasikan keterampilan teknis. Lulusan juga diharapkan memiliki kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi kerja yang membutuhkan koordinasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan secara bersama.

Mahasiswa Didorong Peduli terhadap Persoalan Masyarakat

Selain berbicara mengenai kesiapan memasuki dunia kerja, Yassierli mengingatkan mahasiswa agar tetap memiliki kepedulian terhadap persoalan yang berkembang di masyarakat. Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki peran dalam membentuk generasi yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga mampu menyampaikan gagasan dan aspirasi secara bertanggung jawab.

“Mahasiswa harus menjadi garda moral bangsa. Silakan speak up. Indonesia membutuhkan mahasiswa yang peduli,” katanya.

Menurut Yassierli, keberanian menyampaikan pandangan merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Namun, penyampaian kritik dan aspirasi perlu dilakukan dengan sikap yang baik, sopan, serta mempertimbangkan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.

Pengalaman Industri Menjadi Bagian dari Persiapan

Yassierli selanjutnya mendorong mahasiswa memanfaatkan masa pendidikan untuk memperoleh sebanyak mungkin pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri. Pengalaman tersebut dapat menjadi pelengkap bagi kompetensi teknis maupun human skills yang diperoleh selama proses perkuliahan.

Dalam perspektif tersebut, kompetensi teknis, keterampilan interpersonal, pengalaman industri, aktivitas organisasi, dan kepedulian sosial merupakan sejumlah unsur yang dapat saling melengkapi dalam membentuk kesiapan lulusan.

Menurut Yassierli, lulusan pendidikan vokasi diharapkan tidak berhenti pada kemampuan memperoleh pekerjaan. Mereka juga perlu memiliki kapasitas untuk memberikan kontribusi dan ikut mengembangkan lingkungan industri tempat mereka bekerja.

“Semoga tiga atau empat tahun lagi, saat Anda hadir ke industri, Anda bukan hanya siap bekerja, tetapi juga mampu mengembangkan industri. Dan semoga dari sini juga lahir pemimpin-pemimpin masa depan,” ujarnya.

Politeknik Mitra Industri Didorong Mempertahankan Kedekatan dengan Dunia Kerja

Dalam kesempatan tersebut, Yassierli mengapresiasi pola pembelajaran di Politeknik Mitra Industri yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman melalui berbagai proyek serta jejaring dengan dunia industri. Pendekatan tersebut dinilai dapat mempertemukan proses pembelajaran dengan kebutuhan praktis di lingkungan kerja.

Keterlibatan dalam proyek dan jejaring industri juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kemampuan yang telah dipelajari. Pada saat yang sama, mahasiswa dapat mengembangkan kompetensi teknis dan interpersonal secara bersamaan melalui pengalaman yang lebih kontekstual.

Yassierli meminta mahasiswa memanfaatkan berbagai kesempatan tersebut secara serius selama menjalani pendidikan. Pengalaman yang diperoleh sebelum lulus, menurutnya, dapat menjadi bagian dari modal kompetensi ketika mahasiswa memasuki dunia kerja.

“Manfaatkan kesempatan itu, fokus dan jangan disia-siakan. Saya yakin di sini Anda belajar dan sebelum lulus sudah punya berbagai kompetensi dan pengalaman,” pungkas Yassierli.

Pesan tersebut menempatkan kesiapan lulusan vokasi dalam kerangka kompetensi yang lebih luas. Penguasaan keahlian teknis tetap diperlukan, tetapi kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, beradaptasi, serta menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab juga menjadi bagian penting dari proses pembentukan profesional muda.

Dengan demikian, penguatan human skills sejak bangku kuliah menjadi salah satu aspek yang dapat melengkapi pendidikan vokasi dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi karakter dunia kerja yang terus berkembang. Pendekatan yang menggabungkan kompetensi teknis dengan keterampilan interpersonal sekaligus memberikan pengalaman industri menjadi bagian penting dari proses transisi mahasiswa menuju lingkungan profesional.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment