Teropongpost, MEDAN – Di era globalisasi yang ditandai dengan semakin eratnya hubungan ekonomi, pendidikan, dan bisnis antara Indonesia-Tiongkok, kemampuan berbahasa asing dinilai bukan lagi satu-satunya modal yang harus dimiliki generasi muda. Dalam sebuah workshop di Universitas Prima Indonesia (UNPRI), praktisi komunikasi Wendelyn Leo menegaskan bahwa bahasa saja tak cukup apabila tidak dibarengi kemampuan memahami budaya, pola komunikasi, dan karakter audiens yang berbeda.
Pesan tersebut disampaikan Wendelyn Leo saat menjadi narasumber dalam kegiatan bertajuk “Beyond Translation: How Language, Communication, and Public Speaking Shape Reputation” yang diikuti mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI. Menurutnya, kebutuhan dunia kerja saat ini menuntut hadirnya sumber daya manusia yang mampu menjadi penghubung komunikasi antara Indonesia-Tiongkok, bukan sekadar penerjemah bahasa.
Dalam paparannya, Wendelyn Leo menekankan bahwa bahasa saja tak cukup untuk membangun kerja sama yang efektif. Mahasiswa yang mempelajari bahasa Mandarin perlu memiliki kemampuan membaca situasi, memahami sudut pandang lawan bicara, serta mampu menjembatani perbedaan budaya yang kerap menjadi tantangan dalam komunikasi lintas negara, khususnya antara Indonesia-Tiongkok.
Ia menjelaskan bahwa banyak kesalahpahaman dalam dunia profesional justru muncul bukan karena perbedaan bahasa, melainkan akibat perbedaan cara berpikir, kebiasaan komunikasi, dan ekspektasi masing-masing pihak.
“Bahasa hanyalah sarana. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan kemampuan tersebut untuk menciptakan pemahaman, membangun kepercayaan, dan memperkuat hubungan kerja yang sehat,” ujar Wendelyn.
Berbekal pengalaman sebagai jurnalis dan praktisi komunikasi korporat, ia mengungkapkan bahwa reputasi individu maupun organisasi sering kali ditentukan oleh cara menyampaikan pesan. Karena itu, kemampuan komunikasi strategis menjadi faktor yang tidak kalah penting dibanding penguasaan bahasa.
Dalam sesi workshop, peserta diajak memahami berbagai aspek komunikasi profesional, mulai dari menyusun pesan utama (key message), mengenali karakter audiens, membaca isu yang berkembang, hingga membangun narasi yang mampu menciptakan kepercayaan publik.
Menurut Wendelyn, mahasiswa bahasa Mandarin memiliki peluang besar untuk menjadi penghubung dua budaya yang berbeda. Mereka tidak hanya berperan menerjemahkan kata-kata, tetapi juga membantu menjelaskan cara pandang, kebiasaan, dan nilai yang berlaku di masing-masing negara.
“Peran generasi muda saat ini jauh lebih luas. Mereka bisa menjadi jembatan komunikasi yang membantu kedua pihak memahami perbedaan dan menemukan titik temu dalam berbagai kerja sama,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Program Studi Sarjana Terapan Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional UNPRI, Mei Lisa, B.Ed., MTCSOL, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus memperkuat kompetensi mahasiswa di luar kemampuan kebahasaan.
Menurutnya, penguasaan bahasa yang baik harus diimbangi keterampilan komunikasi yang efektif agar pesan yang disampaikan dapat diterima secara tepat oleh audiens yang dituju.
“Fasih berbahasa Mandarin saja belum tentu cukup. Mahasiswa juga harus mampu menyampaikan gagasan dengan baik, memahami konteks komunikasi, serta menghindari potensi kesalahpahaman dalam interaksi lintas budaya,” jelasnya.
Ia menambahkan, lulusan program studi Mandarin memiliki posisi strategis dalam mendukung hubungan dan kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok. Karena itu, kemampuan menerjemahkan makna, budaya, dan cara berpikir menjadi kompetensi penting yang perlu terus dikembangkan di tengah meningkatnya interaksi kedua negara di berbagai sektor.







