Teropongpost, SAMARINDA – Penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung ketahanan energi nasional. Kebutuhan tersebut mendorong PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memperluas edukasi industri hulu minyak dan gas bumi (migas) kepada generasi muda melalui program Upstream Youth Champs (UYC) 2026 yang diselenggarakan di Politeknik Negeri Samarinda, Kalimantan Timur, pada 27 Oktober 2026.
Mengusung tema “Menggali Potensi, Menggerakkan Energi”, Upstream Youth Champs 2026 dirancang sebagai wadah interaksi antara praktisi industri hulu migas dan mahasiswa. Program ini tidak hanya memperkenalkan proses bisnis sektor energi, tetapi juga mendorong mahasiswa memahami kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan industri.
PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga turut mengambil bagian dalam kegiatan Upstream Youth Champs (UYC) 2026 tersebut dengan menghadirkan perspektif praktisi mengenai operasional hulu migas dan kontribusinya terhadap ketahanan energi nasional. Keterlibatan ini sekaligus menjadi sarana untuk mempertemukan pengalaman profesional dengan pengetahuan akademik yang diperoleh mahasiswa di perguruan tinggi.
Salah satu narasumber, Alfian Dinata, merupakan alumni Politeknik Negeri Samarinda yang saat ini menjabat sebagai Sr. Supervisor North Mahakam Production PEP Sangasanga Field. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan posisi strategis PHE sebagai subholding upstream Pertamina serta tahapan kegiatan usaha yang dijalankan dalam mendukung pasokan energi Indonesia.
Alfian menerangkan bahwa eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak serta gas bumi merupakan bagian awal dari rantai bisnis energi. Ketiga aktivitas tersebut menjadi fondasi penyediaan bahan baku sebelum hasil produksi diproses dan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“PHE menjalankan peran strategis dalam mengelola kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak dan gas bumi bagi Indonesia. Aktivitas tersebut merupakan tahapan awal dalam rantai bisnis energi sebelum hasil produksi diolah dan didistribusikan sebagai bahan bakar dan produk lainnya hingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” jelas Alfian.
Ia juga menyoroti perlunya pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pembagian fungsi di lingkungan Pertamina. Menurutnya, setiap entitas perusahaan memiliki mandat, tanggung jawab, serta karakteristik operasional yang tidak selalu sama. Pemahaman terhadap perbedaan tersebut penting agar mahasiswa dapat mengenali struktur industri energi secara lebih utuh.
“Tidak sedikit masyarakat yang memandang seluruh aktivitas bisnis di lingkungan Pertamina sama. Padahal setiap anak perusahaan memiliki fungsi, tanggung jawab, serta tantangan operasional dan bisnis yang berbeda,” imbuhnya.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa industri hulu migas membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga mampu memahami kompleksitas operasional dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis. Dengan demikian, kesiapan memasuki dunia kerja perlu dibangun melalui pengembangan kompetensi yang lebih luas daripada sekadar penguasaan materi akademik.
Perspektif mengenai kesiapan profesional itu diperkuat oleh Vina Muliana, HR Practitioner & Content Creator, yang membahas hubungan antara kompetensi individu dan kebutuhan sumber daya manusia di dunia kerja. Ia mengingatkan mahasiswa bahwa kemampuan akademis dan keterampilan teknis perlu dilengkapi dengan kecakapan lintas bidang.
Menurut Vina, komunikasi, pemecahan masalah, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi merupakan kompetensi yang semakin relevan dalam menghadapi dinamika pekerjaan. Keterampilan tersebut membantu individu bekerja secara efektif, merespons perubahan, serta membangun hubungan profesional di lingkungan kerja yang beragam.
“Berbagai kompetensi lintas bidang, seperti komunikasi, pemecahan masalah, kerja sama tim, dan kemampuan beradaptasi, juga menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan profesional,” paparnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kesiapan karier tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan capaian akademik. Mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan, berkolaborasi, serta menghasilkan solusi terhadap persoalan yang muncul dalam praktik industri. Kebutuhan ini semakin penting seiring perubahan teknologi dan pola kerja di berbagai sektor, termasuk energi.
Dari perspektif pendidikan tinggi, Ketua Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Samarinda, Ir. Ibnu Eka Rahayu, S.ST., MT., IPM, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan UYC 2026. Ia menilai kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dengan praktisi industri dapat membantu menjembatani pembelajaran di kampus dengan kebutuhan dunia profesional.
Interaksi langsung tersebut dinilai memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh gambaran mengenai tantangan pekerjaan, mengenali potensi diri, serta memahami bagaimana pengetahuan yang dipelajari selama masa pendidikan dapat diterapkan dalam lingkungan kerja.
“Mahasiswa dapat mengembangkan diri melalui pengetahuan yang diasah sesuai minat dan bakat selama menempuh pendidikan di kampus. Namun, pengetahuan tersebut akan menjadi semakin berarti ketika dapat diwujudkan menjadi kontribusi dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara,” ungkapnya.
Pertemuan perspektif industri, praktisi sumber daya manusia, dan akademisi dalam UYC 2026 memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam menyiapkan tenaga profesional. Pendidikan menyediakan dasar keilmuan, industri memberikan gambaran kebutuhan dan tantangan operasional, sedangkan pengembangan kompetensi individu menjadi penghubung agar pengetahuan dapat diterapkan secara produktif.
Dalam konteks ketahanan energi nasional, ketersediaan tenaga kerja yang kompeten merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kegiatan industri. Sektor hulu migas memerlukan sumber daya manusia dengan kemampuan teknis, pemahaman terhadap proses bisnis, serta kapasitas untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan operasional.
Sebagai informasi, PEP Sangasanga Field merupakan bagian dari Zona 9 Subholding Upstream Regional 3 Kalimantan yang dikelola PT Pertamina Hulu Indonesia. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, perusahaan juga berperan dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat di wilayah sekitar area kerja.
Bersama SKK Migas, PEP Sangasanga Field melaksanakan berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang mencakup bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, serta tanggap bencana. Program-program tersebut diarahkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Melalui Upstream Youth Champs 2026, PHE dan PEP Sangasanga memperkuat hubungan dengan institusi pendidikan sekaligus memperluas pemahaman mahasiswa mengenai industri hulu migas. Upaya tersebut menegaskan bahwa pembangunan sektor energi tidak hanya membutuhkan pengelolaan sumber daya dan penguatan teknologi, tetapi juga investasi berkelanjutan dalam menyiapkan generasi muda yang kompeten dan mampu memberikan kontribusi bagi masa depan energi Indonesia.







