Teropongpost Maja, Kalianda — Mitra Bentala Provinsi Lampung bekerja sama Kepala Desa Maja menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Early Warning System (EWS) atau Sistem Peringatan Dini di Desa Maja, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Rabu (24/6/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari keberlanjutan Program SPRINT II (Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas) tersebut berlangsung di Aula Penginapan Lamban Queen, Dusun 2, Desa Maja.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Maja, Arlizon, SH, mengapresiasi upaya Mitra Bentala yang terus mendampingi masyarakat Desa Maja dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana melalui berbagai program pemberdayaan dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Koordinator kegiatan Dewi Ira Rahmawati dalam sambutan menyampaikan pentingnya penguatan sistem kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana, khususnya bagi wilayah pesisir yang memiliki tingkat kerawanan tinggi, adapun Tujuan FGD ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi kondisi dan kapasitas sistem peringatan dini yang telah tersedia di Desa Maja, sekaligus mengkaji kebutuhan pengembangannya berdasarkan potensi ancaman bencana yang ada.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan terkait mekanisme penyebaran informasi peringatan dini, menyusun rekomendasi pengembangan EWS yang efektif, partisipatif, dan berkelanjutan, serta memperkuat koordinasi antar lembaga dalam mendukung kesiapsiagaan masyarakat, ujar Dewi
Selanjut nya pemaparan di sampaikan Oleh Bp.Afif selaku perwakilan dari mitra Bentala menyampaikan Rencana pengembangan EWS di Desa Maja, yang mana desa Maja merupakan salah satu desa yang berada di bibir Pantai dan berhadapan langsung dengan Selat Sunda. Kondisi geografis tersebut membuat desa ini rentan terhadap berbagai ancaman bencana seperti tsunami, gempa bumi, serta dampak perubahan iklim.
Pengalaman pahit saat tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Desa Maja. Bencana yang dipicu aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau tersebut menyebabkan kerusakan di kawasan pesisir dan berdampak pada kehidupan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor perikanan dan aktivitas ekonomi pantai.
Melalui pengembangan Early Warning System (EWS), diharapkan masyarakat dapat menerima informasi peringatan secara cepat, tepat, dan mudah dipahami sehingga mampu mengambil tindakan penyelamatan secara efektif saat terjadi kondisi darurat.
Pengembangan EWS di Desa Maja juga menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan Ekowisata Pantai Maja berbasis Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan pantai, sistem peringatan dini yang dibangun tidak hanya ditujukan bagi masyarakat setempat, tetapi juga harus mampu menjangkau para pengunjung.
FGD tersebut melibatkan berbagai unsur, antara lain Pemerintah Desa Maja, Destana Desa Maja, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), BPBD Kabupaten Lampung Selatan, Universitas Indonesia Mandiri (UIM) Penginapan Lamban Queen, PT RISE Bandung serta Tim Pengembangan EWS.
Melalui forum diskusi ini, para peserta diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi pengembangan sistem peringatan dini yang sesuai dengan kebutuhan lokal, inklusif, dan berkelanjutan guna meningkatkan keselamatan masyarakat maupun wisatawan dalam menghadapi ancaman bencana di masa mendatang.







