Empowerment Dynamic dalam Zakat Pemberdayaan

Empowerment Dynamic dalam Zakat Pemberdayaan
Disajikan oleh:
Deni Nuryadin

Budi adalah seorang pengusaha mikro di bidang percetakan kaki lima, sambil menyeruput teh tawar bergumam mengeluhkan biaya cetak dan bahan-bahan lainnya seperti kertas dan cat, yang terus menerus naik seiring dengan merangkaknya nilai dollar terhadap rupiah berakibat pada harga penawaran yang kurang kompetitif kepada calon konsumennya.

Disektor ini persaingan pasar semakin ketat sehingga usaha Budi kalah dengan pengusaha percetakan yang sudah mapan karena mumpuni memiliki mesin cetak sendiri.

Read More

Kondisi di atas tidak menyurutkan semangat Budi untuk terus berjuang berusaha menafkahi keluarganya, keluh kesah sudah menjadi hal yang biasa bagi dirinya,.

Suatu waktu terbesit dalam dirinya untuk berkonsultasi dengan menghubungi kawannya yang bekerja di salah satu lembaga amil zakat nasional yakni BAZNAS Tangerang Selatan, sebut saja Karta nama kawannya.

Profil Karta merupakan seorang amil pendistribusian dan pendayagunaan yang memiliki rasa kepedulian tinggi kepada para mustahik sehingga setiap mustahik yang datang kepadanya dilayani dengan sepenuh hati dan kesabaran.

Begitupula pelayanan yang diterima Budi sama baiknya mulai dari meminta konsultasi bagaimana strategi menjalankan usaha hingga sampai kepada pengelolaan modal kerja.

Karta juga merupakan profil amil yang kreatif dan inovatif, sepertinya ide-ide baru tidak pernah habis keluar dari dalam dirinya melayani para mustahiq dan muzakki.

Bersama sekelompok anak muda dimana Budi ada di dalam nya merupakan mitra binaan dari karta dalam membangun dan membentuk mindset berusaha dan berjuang, dimana ikhtiar itu adalah merupakan salah satu jalan cara kita beribadah kepada Allah SWT. Dengan demikian kesungguhan dan keikhlasan dalam berbuat sudah menjadi sebuah keniscayaan.

Berbagai macam kelompok usaha binaan karta, seperti ada yang di dasarkan atas kelompok kedekatan wilayah usaha atau pengelompokkan berdasarkan pada usaha sejenis yang berdekatan lokasi usahanya.

Kesungguhan Karta dalam membina kelompok usahanya tercermin pada upaya karta dalam memberikan literasi pengetahuan dan kemampuan ditambah dari waktu ke waktu.

Berjanji memegang komitmen bersama adalah sebuah keharusan, sebagai contoh bagi anggota yang tidak mengikuti pembinaan karena alasan yang tidak bisa ditoleransi secara otomatis akan mempengaruhi komitmen dan konsekuensi peserta lainnya. Komitmen bersama sangat dibutuhkan dalam kelancaran dan pembinaan kelompok usaha.

Kegiatan pembinaan lain bagi peserta tidak hanya seputar pada pembinaan kegiatan usaha anggota, melainkan bimbingan rohani dan mental saja serta perilaku yang baik senantiasa disampaikan kepada anggota kelompok.

Semangat persaudaraan dan saling tolong menolong menjadi doktrin yang disampaikan karta dalam setiap kesempatan pembinaan.

Menyisihkan sebagian rezeki dengan memberikan infaq dan sedekah sudah menjadi budaya yang terus dilestarikan.

Setiap kelompok mempunyai kencleng untuk senantiasa diharapkan dapat diisi oleh anggota kelompoknya, hal ini sebagai upaya untuk membiasakan diri agar menyegerakan kebaikan dalam setiap kesempatan. Bersedekah dan bertindak kebaikan tidak harus menunggu dalam kondisi luang atau terlebih dalam kondisi rezeki sedang melimpah.

Upaya merubah kebiasaan dan mindset, menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan terus berjuang.

Di beberapa program pembiayaan upaya ini kerapkali mengalami kegagalan pada proses di tengah perjalanan dalam merintis usaha.

Sikap perilaku hijrah menuju mental yang kuat untuk berusaha dan memiliki mindset sebagai pengusaha amat diperlukan bagi peserta program, dengan kata lain jika kapan saja saya senantiasa ingin memberi membantu orang lain maka untuk itu saya harus lebih dahulu berdaya.

Kesusksesan Karta dalam membina mustahik untuk lepas dari ketidakberdayaan tidak lepas dari kesungguhan Karta dalam menerapkan 3 prinsip pembinaan yang dikenal sebagai Segitiga Pemberdayaan, yang secara resmi dikenalkan dengan nama The Empowerment Dynamic (TED), sebagai sebuah “alternatif positif”. Ketiga variabel itu adalah:
1. Pembinaan karakter, mental dan rohani
2. Pembinaan teknis usaha (kompetensi)
3. Pembinaan administrasi dan manajemen (modal dan keuangan seeta pasar/ sales)

Kini Budi dapat bersyukur karena berkat bimbingan karta, kini usahanya mulai menunjukkan hasil berkat kesungguhan, kesabaran dan komitmen, kalau ada kemauan di situ ada jalan, nampak mukanya sumringah menatap masa depan.

Demikian, semoga cukilan tulisan ini dapat memberikan inspirasi sederhana dalam menemani kita memulai aktifitas hari ini.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.