Teropongpost, TANGERANG SELATAN – Pembangunan Sodetan Outlet Bukit Cirendeu di Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, menjadi salah satu pekerjaan infrastruktur yang diarahkan untuk mendukung pengendalian aliran air dan mengantisipasi potensi genangan saat curah hujan meningkat. Di tengah pelaksanaan proyek, aspek kesesuaian konstruksi dengan desain teknis atau Detail Engineering Design (DED) menjadi bagian penting yang perlu dipastikan.
Proyek Sodetan Outlet Bukit Cirendeu tersebut tercantum sebagai kegiatan pengelolaan sumber daya air dan bangunan pengaman pada wilayah sungai dalam satu daerah kabupaten/kota. Berdasarkan papan informasi pekerjaan, proyek menggunakan sumber pembiayaan APBD Kota Tangerang Selatan Tahun Anggaran 2026 dengan nilai kontrak Rp2.915.898.000 dan masa pelaksanaan 120 hari kalender.
Dalam konteks Sodetan Outlet Bukit Cirendeu, salah satu aspek teknis yang menarik perhatian adalah keberadaan konstruksi pembatas atau dinding beton pada area pertemuan antara saluran yang dikerjakan dengan aliran eksisting. Posisi dan bentuk konstruksi tersebut perlu dilihat berdasarkan fungsi hidraulik dan strukturalnya, termasuk apakah telah direncanakan dalam DED serta apakah pelaksanaannya konsisten dengan gambar teknis.
Pekerjaan tersebut dilaksanakan berdasarkan Nomor Kontrak 6001.4.3/000.3.3/004-PPKR-EP/SPK/DSDABMBK-SDA/2026 dengan pelaksana CV. Bangun Daffa Jaya. Informasi mengenai nilai kontrak dan waktu pelaksanaan tercantum pada papan informasi proyek di lokasi pekerjaan.
Secara teknis, konstruksi pembatas beton pada sebuah sodetan dapat memiliki sejumlah fungsi. Struktur tersebut dapat dirancang sebagai guide wall untuk mengarahkan aliran, sebagai elemen penahan, sebagai pemisah aliran, maupun sebagai bagian dari struktur inlet atau outlet. Penentuan fungsi tersebut tidak cukup dilakukan berdasarkan tampilan fisik, tetapi harus mengacu pada dokumen perencanaan.
Kondisi tersebut menjadi relevan karena pekerjaan sodetan berkaitan langsung dengan perilaku aliran air. Pada titik pertemuan dua saluran, desain yang tidak tepat berpotensi memengaruhi arah aliran, luas penampang efektif, elevasi muka air, maupun kecepatan aliran. Karena itu, dimensi dan posisi pembatas beton semestinya mempunyai dasar perhitungan hidrologi dan hidraulika yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Dari dokumentasi visual pekerjaan di lapangan, terlihat konstruksi dinding beton memanjang di dekat aliran air eksisting, sementara pekerjaan bekisting dan rangka tulangan juga masih berlangsung pada bagian saluran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur pembatas merupakan salah satu elemen konstruksi yang perlu dicermati dalam proses pemeriksaan kesesuaian antara desain dan pelaksanaan.”Tegas Hairul Ilmi Ketua DPC LSM TrinusaÂ
Hairul Ilmi menjelaskan lebih lanjut, keberadaan pembatas beton tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya kesalahan pekerjaan. Untuk menarik kesimpulan teknis, diperlukan perbandingan antara kondisi lapangan dengan DED, gambar detail struktur, spesifikasi teknis, shop drawing, serta dokumen pelaksanaan lainnya. Pemeriksaan juga perlu melihat apakah terdapat perubahan desain yang telah mendapatkan persetujuan sesuai mekanisme kontrak.
Fungsi Pembatas Beton Perlu Dijelaskan Secara Teknis
Dalam pekerjaan sodetan, pembatas beton dapat berfungsi untuk mengendalikan arah aliran agar air bergerak melalui jalur yang telah direncanakan. Struktur semacam ini juga dapat digunakan untuk melindungi sisi saluran dari gerusan apabila kecepatan aliran relatif tinggi.
Fungsi lainnya berkaitan dengan stabilitas penampang saluran. Pada kondisi tanah tertentu, dinding beton dapat digunakan untuk mempertahankan bentuk dan dimensi saluran agar tidak mudah mengalami erosi atau longsoran. Apabila terdapat perbedaan elevasi antara saluran eksisting dan saluran baru, struktur beton juga dapat menjadi bagian dari sistem pengendalian perubahan elevasi dan energi aliran.
Karena itu, pertanyaan teknis yang perlu dijawab bukan semata-mata mengenai alasan keberadaan beton, tetapi apa fungsi struktur tersebut sebagaimana ditetapkan dalam DED. Selanjutnya perlu dilihat apakah dimensi, elevasi, posisi, material, dan sistem pondasinya telah sesuai dengan fungsi yang dirancang.
Pertemuan Dua Aliran Menjadi Titik Kritis
Titik pertemuan antara Kali Ciputat dan aliran yang berasal dari kawasan Bukit Cirendeu menjadi bagian yang perlu memperoleh perhatian dalam evaluasi teknis. Pengaturan pada titik tersebut harus mempertimbangkan kemungkinan perubahan arah, debit, kecepatan, dan tinggi muka air.
Apabila pembatas beton dirancang sebagai guide wall, struktur tersebut seharusnya memiliki fungsi mengarahkan aliran menuju jalur yang ditentukan. Sebaliknya, apabila posisinya terlalu masuk ke penampang aliran tanpa perhitungan yang memadai, perlu diperiksa apakah konstruksi tersebut menyebabkan berkurangnya luas penampang efektif.
Persoalan lainnya adalah kemungkinan terjadinya aliran balik (backwater) pada kondisi debit tertentu. Karena itu, hubungan antara elevasi dasar saluran, elevasi atas pembatas, kemiringan saluran, serta kapasitas penampang menjadi parameter penting yang seharusnya dapat ditelusuri dalam dokumen teknis proyek.
Kesesuaian Tulangan dan Pondasi Perlu Diverifikasi
Selain aspek hidraulik, konstruksi pembatas beton juga harus diperiksa dari perspektif struktur. Beberapa parameter yang perlu dibandingkan antara gambar teknis dan kondisi lapangan antara lain ketebalan dinding, tinggi struktur, mutu beton, diameter tulangan, jarak antar tulangan, selimut beton, panjang penyaluran, sambungan tulangan, serta konfigurasi pondasi.
Kondisi pondasi juga menjadi bagian penting. Dinding yang berada di sisi saluran menerima kemungkinan tekanan tanah dan pengaruh air, sehingga desain struktur perlu mempertimbangkan stabilitas terhadap geser, guling, penurunan, serta pengaruh gerusan. Apakah seluruh parameter tersebut telah terpenuhi tidak dapat ditentukan hanya melalui dokumentasi foto dan membutuhkan pemeriksaan terhadap dokumen teknis maupun pengukuran lapangan.
DED Menjadi Acuan Utama Pemeriksaan
Untuk memastikan kualitas pelaksanaan, pemeriksaan dapat dilakukan secara sistematis dengan membandingkan lima kelompok dokumen dan kondisi, yakni DED, gambar detail struktur, RAB atau BOQ, spesifikasi teknis, dan konstruksi aktual di lapangan.
Perbandingan tersebut dapat mengungkap apakah volume dan dimensi pembatas beton sesuai dengan kontrak, apakah jenis material yang digunakan memenuhi spesifikasi, serta apakah terdapat pekerjaan yang berubah dari desain awal. Apabila terdapat perbedaan, perlu dilihat apakah perubahan tersebut merupakan penyesuaian teknis yang sah dan telah melalui prosedur persetujuan yang berlaku.
Dengan demikian, evaluasi terhadap Sodetan Outlet Bukit Cirendeu sebaiknya tidak hanya berorientasi pada ada atau tidaknya konstruksi beton, tetapi juga pada fungsi, dasar perencanaan, kapasitas hidraulik, keamanan struktur, dan kesesuaian pelaksanaan terhadap dokumen kontrak.
Pemeriksaan tersebut juga penting untuk memastikan bahwa investasi APBD sebesar Rp2,915 miliar memberikan keluaran sebagaimana direncanakan. Infrastruktur pengendalian air pada akhirnya tidak hanya dinilai dari terselesaikannya konstruksi, tetapi dari kemampuan bangunan menjalankan fungsi teknisnya secara aman dan efektif.
Pemkot Tangerang Selatan bersama konsultan perencana, konsultan pengawas, pelaksana, dan pejabat terkait memiliki peran dalam memastikan seluruh elemen pekerjaan dilaksanakan sesuai dokumen perencanaan dan ketentuan kontrak. Penjelasan teknis mengenai fungsi pembatas beton, dasar perhitungan hidraulik, serta kesesuaiannya dengan DED akan memberikan informasi yang lebih objektif kepada publik.
Pada tahap tersebut, dokumen DED dan detail konstruksi menjadi kunci untuk membedakan antara struktur yang memang diperlukan berdasarkan desain dengan konstruksi yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Tanpa melihat dokumen teknis, penilaian hanya berdasarkan foto berisiko menghasilkan kesimpulan yang prematur.
Oleh sebab itu, perhatian terhadap Sodetan Outlet Bukit Cirendeu selayaknya diarahkan pada transparansi desain dan pelaksanaan. Publik dapat memperoleh kepastian apabila fungsi pembatas beton, dimensi struktur, perhitungan aliran, spesifikasi material, serta kesesuaian volume pekerjaan dapat dijelaskan berdasarkan dokumen teknis dan kondisi aktual di lapangan. Dengan pendekatan tersebut, pengawasan terhadap proyek tidak berhenti pada dugaan, tetapi bertumpu pada data dan parameter konstruksi yang dapat diverifikasi.







