Rahadi Wangsapermana: Ketika Alumni Desain Produk ITB Bicara Ketahanan Bangsa

Rahadi Wangsapermana: Ketika Alumni Desain Produk ITB Bicara Ketahanan Bangsa
Teropongpost, Jakarta – Di tengah riuh perdebatan geopolitik global dan derasnya arus informasi digital, nama Rahadi Wangsapermana kian dikenal sebagai salah satu penulis yang konsisten mengangkat isu perang asimetris, intelijen, serta wawasan kebangsaan. Pemikirannya kerap menjadi rujukan dalam membaca dinamika konflik modern yang semakin kompleks dan tidak lagi terbatas pada konfrontasi militer konvensional.

Latar belakangnya terbilang unik. Rahadi Wangsapermana merupakan alumni Desain Produk Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1989, sebuah disiplin yang pada umumnya jauh dari dunia strategi pertahanan atau geopolitik. Namun justru dari pendekatan desain itulah ia membangun cara pandang yang berbeda dalam memahami konflik global.

Dididik dalam tradisi desain yang menekankan pemikiran sistemik, kemampuan memecahkan masalah, serta sensitivitas terhadap perilaku manusia, Rahadi Wangsapermana melihat perang modern sebagai sebuah “desain besar”. Dalam pandangannya, konflik hari ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan juga oleh bagaimana narasi dibangun, persepsi publik diarahkan, tekanan ekonomi dimainkan, serta sumber daya dikendalikan secara strategis tanpa harus mengerahkan kekuatan tempur secara langsung.

Read More

Dalam berbagai tulisannya di sejumlah media daring, Rahadi menyoroti bahwa perang asimetris kini hadir dalam bentuk yang semakin halus dan sulit dikenali. Ia menilai manipulasi opini publik, tekanan ekonomi global, infiltrasi budaya populer, hingga permainan regulasi menjadi instrumen yang kerap digunakan untuk melemahkan suatu negara secara perlahan.

“Negara harus dipahami sebagai sebuah sistem besar yang perlu dirancang ketahanannya, bukan sekadar dipertahankan secara reaktif,” menjadi salah satu gagasan utama yang kerap ia sampaikan dalam berbagai analisisnya.

Lebih jauh, Rahadi juga menekankan pentingnya literasi kebangsaan di tengah masyarakat yang semakin rentan terbelah oleh arus informasi digital. Menurutnya, rendahnya kemampuan memahami konteks geopolitik membuka celah bagi aktor-aktor tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri untuk memengaruhi opini publik secara destruktif.

Sebagai alumnus ITB, ia mengadopsi pendekatan desain dalam membaca dinamika strategis. Mulai dari memetakan aktor yang terlibat, membaca pola pergerakan, mengidentifikasi titik lemah, hingga merumuskan langkah mitigasi berbasis kesadaran kolektif. Pendekatan ini, menurutnya, penting untuk membangun ketahanan nasional yang lebih adaptif di tengah perubahan zaman.

Rahadi juga berpandangan bahwa pertahanan negara tidak bisa semata-mata dibebankan kepada institusi militer. Ia menilai bahwa ketahanan nasional merupakan kerja bersama lintas sektor, melibatkan akademisi, jurnalis, pelaku usaha, hingga masyarakat sipil sebagai bagian dari ekosistem pertahanan yang utuh.

Di era ketika bentuk perang tidak lagi selalu kasatmata, Rahadi memilih berada di garis depan wacana publik. Melalui tulisan-tulisannya, ia mengajak masyarakat untuk lebih waspada, rasional, dan memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga kedaulatan bangsa dari berbagai ancaman non-konvensional yang terus berkembang

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.