Teropongpost, JAKARTA — Jaya Center Foundation menilai Jakarta Timur memiliki peluang besar untuk memperkuat perannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pengembangan ruang publik, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam refleksi pembangunan sepanjang 2026, lembaga tersebut mengapresiasi sejumlah langkah Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur sekaligus mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor agar potensi wilayah dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi warga.
Penilaian Jaya Center Foundation untuk pengembangan Jakarta Timur sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dinilai perlu mengintegrasikan pembenahan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pengembangan kawasan wisata dan ekonomi kreatif. Pendekatan ini penting agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada perubahan fisik wilayah, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi dan sosial yang dapat dirasakan masyarakat.
Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Jaya Center Foundation, Budi Mulyawan, mengatakan bahwa Jakarta Timur memiliki modal strategis berupa jumlah penduduk yang besar, kawasan industri, pusat perdagangan, jaringan transportasi, dan kedekatan dengan sejumlah wilayah penyangga. Menurut dia, potensi tersebut perlu dikelola melalui kebijakan yang terintegrasi serta kemitraan antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan komunitas.
“Jakarta Timur memiliki potensi yang sangat besar. Karena itu, pembenahan wilayah tidak hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga bagaimana potensi ekonomi, lingkungan, budaya, dan masyarakat dapat dikembangkan menjadi nilai tambah bagi warga,” ujar Budi dalam refleksi Jaya Center Foundation 2026.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, atas sejumlah program yang dinilainya relevan dengan kebutuhan masyarakat. Program-program tersebut meliputi penataan kawasan, antisipasi banjir, penguatan ketahanan pangan, pengelolaan sampah, peningkatan kesehatan lingkungan, serta pengembangan sektor sosial, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
Penataan Lingkungan dan Ketahanan Pangan Jadi Fondasi Pembangunan
Dalam bidang lingkungan, upaya penataan kawasan dan pengerukan saluran air serta kali dinilai penting untuk membantu mengurangi risiko genangan. Namun, efektivitas penanganan banjir juga memerlukan pengelolaan drainase yang berkelanjutan, pemeliharaan infrastruktur, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Penguatan ketahanan pangan melalui program urban farming turut menjadi perhatian. Pemanfaatan lahan yang tersedia untuk kegiatan produktif masyarakat berpotensi mendukung ketersediaan pangan sekaligus membuka ruang partisipasi warga dalam mengembangkan lingkungan yang lebih mandiri.
Pada sektor persampahan, Budi menyoroti pentingnya kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Menurutnya, pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat dapat menjadi fondasi bagi terciptanya kawasan permukiman dan ruang publik yang lebih bersih.
“Pembenahan kota akan lebih kuat apabila masyarakat menjadi bagian dari prosesnya. Pemerintah memiliki peran penting dalam menyiapkan kebijakan dan fasilitas, sementara masyarakat, dunia usaha, komunitas, serta lembaga lainnya dapat memperkuat pelaksanaannya,” kata Budi.
Pandangan tersebut menempatkan partisipasi masyarakat sebagai unsur penting dalam keberhasilan pembangunan wilayah. Kebijakan pemerintah akan lebih efektif apabila disertai dukungan warga, sistem pengelolaan yang jelas, serta evaluasi terhadap manfaat program. Dengan demikian, pembenahan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi berkembang menjadi praktik yang berkelanjutan.
BKT Berpotensi Dikembangkan sebagai Ruang Publik dan Ekonomi Kreatif
Selain penataan lingkungan, Jaya Center Foundation menyoroti potensi Banjir Kanal Timur (BKT) yang membentang sekitar 23,6 kilometer. Kawasan tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan tidak hanya sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir dan ruang terbuka, tetapi juga sebagai tempat interaksi sosial serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Budi mengemukakan gagasan pengembangan BKT menjadi pusat kuliner modern melalui konsep “Jakarta Crystal Tunnel”. Gagasan tersebut dipandang sebagai kemungkinan pengembangan nilai tambah yang dapat melengkapi penataan kawasan, dengan tetap memperhatikan fungsi utama BKT dan ketentuan yang berlaku.
“Gagasan BKT menjadi pusat kuliner modern merupakan nilai tambah yang bisa melengkapi penataan BKT sebagai ruang publik. Konsepnya tentu perlu dikaji secara matang, termasuk aspek tata ruang, lingkungan, kebersihan, keamanan, dan keberpihakan kepada UMKM,” ujar Budi.
Menurutnya, pengembangan kawasan BKT berpotensi mempertemukan berbagai kekuatan Jakarta Timur, termasuk pasar konsumen yang besar, pelaku UMKM, akses transportasi, dan kedekatan dengan destinasi seperti Taman Mini Indonesia Indah serta Bandara Halim Perdanakusuma.
Meski demikian, pemanfaatan kawasan tersebut untuk kegiatan komersial membutuhkan perencanaan yang cermat. Aspek tata ruang, keselamatan pengunjung, kebersihan, pengelolaan sampah, aksesibilitas, dan penataan pedagang perlu dipertimbangkan sejak awal. Kajian kelayakan dan kesesuaian dengan fungsi kawasan juga diperlukan sebelum gagasan tersebut direalisasikan.
Dengan perencanaan yang tepat, ruang publik dapat dikembangkan sebagai tempat rekreasi sekaligus sarana promosi produk lokal. Namun, manfaat ekonomi harus tetap berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, keteraturan aktivitas masyarakat, dan akses publik yang memadai.
Kawasan Industri dan Perdagangan Jadi Modal Ekonomi Lokal
Di luar BKT, Jaya Center Foundation menilai kawasan industri Pulo Gadung, pusat perdagangan Jatinegara, Pasar Induk Kramat Jati, dan berbagai simpul transportasi merupakan aset penting bagi perkembangan ekonomi Jakarta Timur.
Keberadaan kawasan tersebut membuka peluang untuk memperkuat hubungan antara industri, perdagangan, jasa, pariwisata, dan UMKM. Pengembangan ekonomi lokal dapat diarahkan melalui peningkatan akses pasar, promosi produk masyarakat, serta penciptaan ruang usaha yang tertib dan sesuai dengan kebutuhan lingkungan sekitar.
Budi menilai keterpaduan antara infrastruktur, kegiatan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu faktor yang menentukan kualitas pembangunan wilayah. Karena itu, pengembangan Jakarta Timur perlu mempertimbangkan manfaat yang diterima warga, bukan hanya pertumbuhan aktivitas ekonomi secara agregat.
Kolaborasi Sosial Diperkuat melalui Kegiatan Masyarakat
Selain agenda pembangunan fisik dan ekonomi, Jaya Center Foundation menyoroti pentingnya kerja sama pemerintah dan masyarakat melalui kegiatan sosial. Salah satu kegiatan yang sedang dipersiapkan adalah pemeriksaan mata dan pembagian sekitar 500 kacamata gratis bagi warga yang membutuhkan di Cipinang Muara pada November 2026.
Kegiatan tersebut direncanakan dilaksanakan oleh Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, dengan melibatkan sejumlah tokoh masyarakat. Mereka antara lain Nachrowi, Ketua RW 14 Kelurahan Cipinang Muara; Ruchyat, Ketua LMK Kelurahan Cipinang Muara; dan Subadi, anggota LMK Cipinang Muara.
Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, direncanakan menghadiri kegiatan tersebut. Program ini diharapkan menjadi salah satu bentuk dukungan sosial bagi warga, khususnya mereka yang membutuhkan akses pemeriksaan kesehatan mata dan alat bantu penglihatan.
Sebelumnya, Jaya Center Foundation juga memberikan Piagam Penghargaan JMFF 2026 kepada Munjirin sebagai bentuk apresiasi atas dukungannya terhadap penyelenggaraan festival film pendek se-Jawa Bali. Penghargaan tersebut menjadi bagian dari hubungan kelembagaan yang dibangun melalui dukungan terhadap kegiatan sosial dan kebudayaan.
Budi mengatakan bahwa kegiatan sosial dan kebudayaan dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara pemerintah daerah dan masyarakat. Kolaborasi yang produktif, menurutnya, tidak hanya dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur, tetapi juga dalam memperluas akses pelayanan sosial serta mendorong partisipasi warga.
“Refleksi 2026 ini menjadi momentum untuk melihat apa yang sudah dilakukan sekaligus apa yang masih dapat dikembangkan. Kami mengapresiasi langkah Pemkot Jakarta Timur dan berharap kolaborasi dengan masyarakat semakin diperkuat,” ujar Budi.
Pembangunan Inklusif sebagai Arah Pengembangan Jakarta Timur
Jaya Center Foundation berharap pembangunan Jakarta Timur ke depan semakin memperkuat karakter wilayah sebagai kawasan yang produktif, inklusif, berbudaya, dan memiliki ruang publik yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pengembangan tersebut membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, pelestarian nilai sejarah dan budaya, serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Setiap program juga perlu dievaluasi berdasarkan manfaatnya bagi warga, keberlanjutan pelaksanaan, dan kemampuannya menjawab persoalan wilayah.
Bagi Jaya Center Foundation, upaya menjadikan Jakarta sebagai kota global harus tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat di tingkat lokal. Pertumbuhan investasi dan aktivitas usaha akan lebih bermakna apabila disertai kesempatan ekonomi yang lebih luas, lingkungan yang terawat, serta ruang publik yang aman dan dapat diakses masyarakat.
Dengan modal berupa kawasan industri, pusat perdagangan, jaringan transportasi, UMKM, jumlah penduduk yang besar, dan destinasi wisata, Jakarta Timur memiliki peluang untuk memperkuat posisinya dalam perekonomian ibu kota. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh potensi tersebut dikelola secara terintegrasi agar pembangunan menghasilkan manfaat yang nyata, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat.







