Pengembangan Skill Divisi Caving Mapala STACIA UMJ: Peserta Perdalam Pengenalan Ornamen Gua dan Konservasi Karst

Pengembangan Skill Divisi Caving Mapala STACIA UMJ: Peserta Perdalam Pengenalan Ornamen Gua dan Konservasi Karst

Teropongpost, Bogor, -Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) STACIA Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) melaksanakan kegiatan Pengembangan Skill Divisi Caving yang berlangsung pada 28–30 Juli 2026 di kawasan karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota dalam mengenali karakteristik gua, khususnya berbagai jenis ornamen gua, sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya konservasi lingkungan bawah tanah.

Untuk mendukung efektivitas pembelajaran, kegiatan dibagi menjadi dua kloter. Pembagian ini dilakukan agar proses penyampaian materi berjalan lebih optimal, peserta lebih leluasa melakukan pengamatan, serta aspek keselamatan selama penelusuran tetap terjaga.

Read More

Belajar Mengenal Proses Terbentuknya Gua

Dalam keterangannya salah satu Anggota STACIA UMJ Najwa Heldia mengatakan, Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan materi mengenai proses terbentuknya gua kapur (karst) beserta berbagai ornamen yang terbentuk secara alami melalui proses geologi yang berlangsung selama ribuan hingga jutaan tahun.

“Instruktur menjelaskan fungsi, karakteristik, dan proses pembentukan berbagai ornamen gua, di antaranya stalaktit, stalagmit, pilar (column), flowstone, soda straw, gourdam, serta beragam formasi lainnya yang menjadi ciri khas ekosistem gua karst,” terangnya.

Selain memahami bentuk dan proses terbentuknya ornamen, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai nilai ilmiah yang terkandung di dalamnya. Setiap formasi batuan memiliki proses pertumbuhan yang sangat lambat sehingga kerusakan yang terjadi akibat aktivitas manusia hampir tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat.

Pembelajaran Langsung di Dalam Gua

“Metode pembelajaran dilakukan secara langsung di lapangan melalui kegiatan observasi di dalam gua. Pada setiap titik yang memiliki formasi unik, instruktur memberikan penjelasan mengenai jenis ornamen, proses pembentukan, hingga fungsi ekologisnya,” tuturnya.

Pendekatan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengamati objek secara langsung, sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipahami dibandingkan hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.

Selama penelusuran, suasana belajar berlangsung interaktif. Peserta aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan kepada instruktur mengenai fenomena geologi yang dijumpai di dalam gua, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih mendalam dan aplikatif.

Menanamkan Etika Penelusuran dan Kepedulian terhadap Konservasi

“Selain meningkatkan pengetahuan teknis, kegiatan ini juga menanamkan prinsip-prinsip etika penelusuran gua (caving ethics). Peserta diingatkan untuk tidak menyentuh, mematahkan, memindahkan, maupun merusak ornamen gua karena setiap formasi memiliki nilai ilmiah yang tinggi dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terbentuk,” ucapnya.

Instruktur juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan kawasan gua, tidak meninggalkan sampah, serta meminimalkan dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem bawah tanah yang menjadi habitat berbagai jenis satwa.

Pembelajaran Lebih Efektif dengan Sistem Dua Kloter

“Pembagian peserta ke dalam dua kloter memberikan banyak manfaat selama pelaksanaan kegiatan. Selain mengurangi kepadatan di dalam gua, sistem ini memungkinkan setiap peserta memperoleh kesempatan yang sama untuk melakukan observasi secara detail, berdiskusi dengan instruktur, dan memahami materi secara lebih mendalam,” imbuhnya.

Dengan jumlah peserta yang lebih sedikit di setiap sesi, proses pembelajaran menjadi lebih efektif tanpa mengurangi aspek keselamatan maupun kualitas penyampaian materi.

Mempersiapkan Anggota yang Kompeten dan Berwawasan Konservasi

“Melalui kegiatan Pengembangan Skill Divisi Caving ini, Mapala STACIA UMJ berharap seluruh peserta mampu meningkatkan pemahaman mengenai ilmu speleologi, mengenali keunikan ornamen gua, serta menerapkan etika penelusuran yang mengutamakan keselamatan dan konservasi,” tandasnya.

Kegiatan ini menjadi salah satu tahapan penting dalam proses pembinaan anggota agar tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam kegiatan susur gua, tetapi juga tumbuh sebagai penelusur yang bertanggung jawab, disiplin, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian kawasan karst sebagai warisan alam yang bernilai ilmiah dan tidak dapat diperbarui.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.