Dalam konteks Jakarta, Budi menilai situasi ini harus menjadi perhatian serius karena Jakarta merupakan wilayah yang sangat padat, memiliki kebutuhan air sangat tinggi, namun di sisi lain menghadapi tantangan besar terkait kualitas dan ketersediaan air.
Ia menyebut, air tanah Jakarta harus diprioritaskan sebesar-besarnya untuk kepentingan warga Jakarta, bukan untuk memperkaya kelompok tertentu.
“Air tanah Jakarta harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk warga Jakarta. Jangan sampai rakyat hanya jadi penonton di tanahnya sendiri,” tegasnya.
Budi juga menyoroti pentingnya pemerintah sebagai pemegang regulasi untuk memastikan air tanah dikuasai negara dan dimanfaatkan demi kepentingan masyarakat luas.
Ia menilai, jika negara tidak hadir secara nyata, maka swasta akan terus mengambil ruang penguasaan sumber daya air tanah, menjadikannya sebagai bisnis murni yang hanya menguntungkan segelintir pihak.
“Pemerintah harus tegas. Air tanah harus dikuasai negara dan digunakan untuk kepentingan rakyat. Jangan sampai swasta menggunakan air tanah hanya untuk bisnis semata,” katanya.
Budi kemudian menekankan urgensi agar PDAM Jakarta atau PAM JAYA tidak hanya fokus pada distribusi air perpipaan, tetapi juga mempertimbangkan diversifikasi bisnis dengan masuk ke industri air minum dalam kemasan.
Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi strategi besar untuk menghadirkan keseimbangan pasar, sekaligus memberi opsi air minum yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
“PDAM Jakarta seharusnya tidak hanya berpikir air pipa. PDAM harus masuk bisnis air minum kemasan supaya warga punya pilihan yang lebih baik, dan harga air minum bisa bersaing,” tegas Budi.
Ia menilai gagasan PAM JAYA masuk bisnis AMDK bukan sekadar ide bisnis, tetapi merupakan langkah strategis yang menyatukan tiga kepentingan besar sekaligus: antisipasi krisis air bersih, kontrol harga, serta menjadi penyeimbang pasar yang selama ini didominasi perusahaan besar.
“Ini bukan hanya soal bisnis, tapi soal antisipasi krisis, kontrol harga, dan penyeimbang pasar. Argumen ini sangat kuat dan harus menjadi pertimbangan serius,” ujar Budi.
Menurutnya, jika PAM JAYA memproduksi AMDK sendiri, Jakarta dapat memiliki cadangan strategis air minum kemasan yang siap didistribusikan ketika terjadi kondisi darurat, seperti gangguan suplai air perpipaan akibat kerusakan jaringan pipa, bencana alam, atau hambatan pasokan air baku.






